BANDA ACEH—-Dunia kuliner menyebutnya sebagai kepiting soka, sebetulnya kepiting cangkang lunak atau kepiting yang baru melepas kulit lamanya dan masih lunak. Kepiting ini diangkat dari air agar cangkangnya mereka tak meneras, tujuannya agar nyaris seluruh bagian dari hewan ini disantap.
Dian Tamara melihat peluang usaha ini ketika singgah di sebuah tambak di kawasan Banda Aceh yang melakukan budi daya kepiting soka.
Pria kelahiran 1981 ini tahu bahwa di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia, kepiting soka adalah kuliner favorit, mempunyai banyak penggemar. Nalurinya, ini peluang usaha di Banda Aceh.
Dian kemudian membuka usaha restoran pada 2019 di kawasan Banda Aceh. Kuliner ini disajikan dengan beragam varian, seperti kepiting soka saos padang, kepiting soka lada hitam, kepiting soka asam manis, bahkan kepiting kulit lunak geprek.
“Omzet saya per hari berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Omzet ini belum sempat menutup biaya produksi dan mengembalikan modal sebesar Rp50 juta,” kata alumni Jurusan Arsitektur, Universitas Trisakti ini.
Pandemi Covid-19 kemudian berdampak bagi usaha dan memaksanya menutup resto dan kemudian beralih menjual kepiting lunak beku dalam kemasan. Konsumen tinggal menggorengnya lengkap dengan selera pilihannya, saos padang, asam manis seperti halnya menyantap di rumah makan. Bahkan dia juga menawarkan nugget dari kepiting.
Awalnya omzetnya dengan cara bisnis baru itu tidak semeriah sewaktu membuka rumah makan. Dia mengemas produknya dengan 150 gram seharga Rp30 ribu dan 250 gram seharga Rp50 ribu. Omzetnya hanya Rp2 juta per bulan.
Pemasaran dilakukan secara daring dengan mengandalkan jasa seperti Gofood dan Grabfood. Usahanya berlokasi di Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, Provinsi DI Aceh.
Dian kemudian bergabung dengan Koperasi Industri Tanyoe Aceh (KITA) yang membuatnya bisa mengikuti berbagai kegiatan. Hal ini membantu meningkatkan omzet. Dalam sebuah pameran dia bisa mendapatkan Rp500 ribu per hari bahkan dalam kegiatan food festival bisa mencapai Rp2 juta sehari.
Koperasi membantu membuatkan katalog yang memudahkan berpromosi. Dian optimis bisnisnya berkembang lewat kerja sama dengan koperasi lain.
Ke depan Dian berencana mempunyai tambak kepiting sendiri dengan cara in door yang sedang dia pelajari. Pasalnya untuk tambak out door terkendala lahan.
“Prospeknya besar, kalau bisa mebuka tambak. Sebab panen bisa dilakukan setiap 15-20 hari. Dengan demikian pasokan kepiting bisa terjaga,” tutupnya (Van).








