
PeluangNews, Jakarta – Peringatan Hari Kesadaran Autisme Sedunia yang jatuh setiap 2 April menjadi momentum untuk menyoroti berbagai tantangan dalam penanganan autisme di Indonesia. Salah satu persoalan utama yang masih dihadapi adalah belum tersedianya data nasional yang akurat dan terintegrasi, sehingga berdampak pada belum optimalnya kebijakan dan layanan bagi anak dengan autisme.
Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Rozana Ika Agustiya, mengungkapkan bahwa hingga saat ini angka autisme di Indonesia masih bersifat estimasi karena belum didukung survei nasional yang komprehensif.
“Kalau kita tahu jumlah dan distribusinya, kita bisa merencanakan kebutuhan layanan, tenaga ahli, hingga anggaran. Tanpa data, kebijakan jadi tidak tepat sasaran,” ujarnya, Sabtu (28/3) lalu.
Ia menegaskan bahwa data yang kuat tidak hanya penting untuk mengetahui jumlah kasus, tetapi juga untuk memetakan karakteristik dan kebutuhan tiap kelompok usia, mulai dari anak usia dini hingga remaja. Dengan begitu, intervensi yang dirancang dapat lebih tepat sasaran dan efektif.
Di lapangan, keterbatasan data tersebut berjalan beriringan dengan berbagai kendala lain. Salah satu yang paling umum adalah keterlambatan deteksi dini, yang kerap dipicu oleh minimnya pemahaman orang tua serta keterbatasan tenaga terlatih di layanan dasar seperti puskesmas dan posyandu.
Selain itu, akses terhadap layanan terapi juga masih terbatas, khususnya di luar kota besar. Padahal, anak dengan autisme membutuhkan beragam terapi, mulai dari terapi wicara, terapi okupasi, hingga intervensi perilaku. Sayangnya, tidak semua daerah memiliki fasilitas dan tenaga profesional yang memadai.
“Layanan yang ada juga belum terintegrasi. Orang tua dengan anak autisme sering harus berpindah-pindah antara dokter, psikolog, dan terapis di tempat berbeda,” kata Ika.
Kondisi tersebut turut menambah beban keluarga, baik dari sisi waktu, tenaga, maupun biaya. Meskipun sebagian layanan telah ditanggung oleh BPJS Kesehatan, kebutuhan lain seperti transportasi, pendampingan, hingga alat bantu masih harus ditanggung secara mandiri. Tidak jarang, orang tua harus mengurangi aktivitas kerja demi mendampingi anak secara intensif.
Di sisi lain, stigma sosial terhadap anak autisme masih cukup kuat. Anak yang mengalami kesulitan berkomunikasi kerap disalahartikan sebagai “nakal”, sementara orang tua sering dianggap tidak mampu mengasuh dengan baik.
“Akhirnya orang tua bisa merasa tertekan dan menarik diri dari lingkungan sosial,” ujarnya.
Dalam perspektif kesehatan masyarakat, penanganan autisme tidak hanya bergantung pada layanan medis, tetapi juga dukungan keluarga dan lingkungan. Peran orang tua menjadi sangat penting dalam proses tumbuh kembang anak.
Menurut Ika, orang tua tidak hanya sebagai pendamping, tetapi juga berperan sebagai ko-terapis. “Terapi itu hanya satu sampai dua jam di layanan kesehatan, sisanya anak ada di rumah. Jadi orang tua yang melanjutkan latihan, baik komunikasi, motorik, maupun kemandirian sehari-hari,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya deteksi dini agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Semakin dini anak teridentifikasi, semakin besar peluangnya untuk berkembang dan beradaptasi, termasuk dalam kemampuan komunikasi dan interaksi sosial.
Namun demikian, tujuan utama intervensi bukan untuk menyamakan anak autisme dengan anak lain, melainkan membantu mereka mencapai potensi terbaik sesuai kemampuannya masing-masing.
Dalam konteks ini, riset memegang peran penting, baik dalam penyediaan data maupun pengembangan model intervensi. Ika menilai Badan Riset dan Inovasi Nasional dapat berkontribusi dalam mendorong integrasi data lintas sektor melalui survei nasional.
“Data terkait autisme sebenarnya tersebar di berbagai kementerian yang membidangi kesehatan, pendidikan, dan sosial. Tantangannya adalah bagaimana mengintegrasikan data tersebut agar bisa menjadi dasar kebijakan yang komprehensif,” katanya.
Selain itu, pengembangan model intervensi yang sesuai dengan konteks Indonesia juga dinilai penting. Pendekatan dari negara maju tidak bisa langsung diterapkan tanpa penyesuaian terhadap kondisi lokal, termasuk budaya keluarga dan keterbatasan tenaga profesional.
Pendekatan berbasis keluarga dan komunitas menjadi salah satu solusi yang dinilai relevan. Melalui pelatihan orang tua dan pemberdayaan komunitas, intervensi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak anak, terutama di daerah dengan keterbatasan layanan.
Pemanfaatan teknologi juga membuka peluang baru, seperti aplikasi untuk deteksi dini, panduan penanganan, hingga edukasi bagi orang tua, yang dapat memperluas akses sekaligus meningkatkan efektivitas intervensi.
Momentum Hari Kesadaran Autisme Sedunia menjadi pengingat bahwa penanganan autisme membutuhkan pendekatan yang sistematis, berbasis data, dan berkelanjutan. Tidak hanya meningkatkan kesadaran publik, tetapi juga memperkuat dukungan kebijakan dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Ika menegaskan bahwa anak dengan autisme bukan individu yang “kurang”, melainkan berkembang dengan cara yang berbeda. “Setiap anak dalam spektrum autisme memiliki potensi yang unik, sehingga penting bagi keluarga untuk mengenali dan mengembangkannya tanpa membandingkan dengan anak lain,” tuturnya.
Di sisi lain, masyarakat diharapkan dapat mengurangi stigma dan lebih menerima anak dengan autisme. Sementara pemerintah didorong untuk memperkuat dukungan melalui penyediaan data, layanan, serta program berbasis keluarga dan komunitas agar penanganan autisme dapat berjalan lebih komprehensif dan berkelanjutan.








