JAKARTA-—Badan Pusat Statistik Nasional mengumumkan pada Desember 2020 terjadi inflasi sebesar 0,45 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,68. Angka ini lebih tinggi dari inflasi November dengan angka 0,28 dan Oktober 0,07
Dari 90 kota IHK, 87 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,87 persen dengan IHK sebesar 107,85 dan terendah terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,05 persen dengan IHK sebesar 102,47.
Sementara deflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 0,26 persen dengan IHK sebesar 107,51 dan terendah terjadi di Ambon sebesar 0,07 persen dengan IHK sebesar 105,52.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan, sepanjang tahun kalender 2020 laju inflasi sudah mencapai 1,68 persen persen, sementara secara tahunan sudah mencapai 1,68 persen. Angka ini merupakan inflasi yang terendah sejak BPS merilis data inflasi (2013).
“Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,49 persen” kata Setianto dalam Jumpa Pers Virtual, Senin (4/1/21).
Terdapat 10 komoditas yang memberikan andil inflasi di sepanjang tahun lalu. Emas perhiasan memegang andil paling tinggi, yaitu 0,26%, disusul cabai merah yang memberikan andil kepada inflasi sebesar 0,16% dan disusul dengan minyak goreng yang memberi andil 0,10%.
Sebelumnya Bank Indonesia memprediksi akan terjadi inflasi pada Desember 2020. Berdasarkan survei pemantaian harga pada minggu ketiga Desember 2020, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Desember sebesar 0,36% secara bulanan (mom).
Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan peningkatan inflasi pada Desember didorong oleh peningkatan harga komoditas pangan, terutama untuk bahan bumbu masakan seperti cabai rawit (36,53% mom) dan cabai merah (22,34% mom).
“Kenaikan harga produk bumbu ini didasari oleh musim penghujan, sehingga supply dari produk tersebut terganggu,” ucap dia.








