JAKARTA—-Terkena PHK bukan kiamat bagi Palupy Utami mendapat keberuntungan lain, yaitu menjadi wirausaha. Hasilnya ibu rumah tanggal yang tinggal di Ciracas ini tetap bisa membantu suaminya menambah nafkah keluarga.
Palupy menjalankan kuliner kemasan yaitu sambal kemasan, dengan salah satu bahan utamanya adalah pete. Dengan “Brand Judeshh”, artinya mengacu ke arah pedas sekali, Palupy menawarkan 12 menu sambal, di antaranya sambal pete, sambal cumi, sambal paru, sambal teri. Kalau ditambah dengan berat kemasannya maka variannya bisa sampai 30.
Kuliner ini mulai berjalan pada Agustus 2018 ketika Sang Suami mendaftarkannya ke Tokopedia. Harga jualnya mulai Rp30-35 ribu hingga Rp90 hingga Rp110 ribu bergantung menu dan beratnya. Palupy menjual dengan kemasan 300 gram hingga 500 gram.
“Sebelum pandemi omzet saya bisa mencapai Rp15 hingga 17 juta. Sayang pandemi berimbas hingga omzet tergerus separuhnya berkisar Rp7 hingga 10 juta,” ungkap Palupy kepada Peluang, melalui Whatsapp, Senin (8/3/21).
Lanjut Palupy, sambal ini dibuat tanpa pengawet tapi aman dikirim ke luar kota bahkan luar pulau. Konsumen tidak ush repot memasak tinggal menyiapkan nasi panas dan langsung makan. Sambal ini tahan di suhu ruangan 4 hingga 7 hari dan freezer dua bulan.
Menjalankan usaha ini penuh perjuangan, selain menghadapi pembatasan, Palupy juga menghadapi fluktuasi harga cabai. Di sisi lain, tidak bisa bisa begitu saja menaikan harga.
“Saya berharap ke depan mendapat binaan untuk bisa meluaskan pasar, diversifikasi produk dan saya punya keinginan untuk ekspor. Sudah ada kawan dari TKI memesan sambal, tetapi tidak mudha karena sejumlah perizinan, di antaranya dengan POM,” tutup binaan Jakpreneur, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur ini (Van).








