BANDUNG—Lobster mempunyai potensi menjadi kekuatan ekonomi Indonesia pada masa mendatang. Hanya saja untuk mewujudkan hal itu diperlukan manajemen keberlanjutan budidaya lobster.
Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Yudi Nurul Ihsan dalam webinar bertajuk “Masa Depan Lobster di Indonesia”, Rabu (31/3/21).
“Kita memerlukan perbaikan masalah budi daya lobster, termasuk tata kelola, tata niaga, lingkungan, kebijakan, dan sosial budaya. Kita memerlukan satu manajemen lobster yang baik terkait peluang riset, manajemen budidaya, konservasi, dan manajemen untuk mengatasi berbagai tantangan,” ungkap Yudi.
Terdapat tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam perumusan kebijakan dan program terkait perikanan dan kelautan, yaitu kontribusi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi secara cepat dan berkelanjutan, distribusi kesejahteraan secara adil, serta kelestarian ekosistem dan sumber daya kelautan dan perikanan.
“Ancaman terbesar dari lobster ini disebabkan oleh kerusakan habitat dan predator. Lobster dalam fase larva dan juvenile (BBL) mengalami kematian masal akibat kerusakan habitat dan predator. Oleh karena itu, untuk budi daya, harus dimulai dengan membudidayakan benur lobster,” tambah dia.
Yudi juga mengajak berbagai pihak untuk bersama membangun roadmap pengelolaan lobster sehingga tercipta industri lobster yang hebat dengan kemampuan budi daya lobster.
Nelayan juga perlu didorong untuk tidak sebatas menjadi nelayan atau pembudidaya, tetapi juga menjadi scientist di bidang lobster. Manajemen pun perlu dilakukan dengan pendekatan dari aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.
Lanjut Yudi, perlu dilakukan pendataan stok BBL, lobster muda, dan lobster dewasa berdasarkan Wilayah Pengelolaan Perikanan. Masyarakat hendaknya juga diberikan arahan untuk tidak menangkap lobster muda yang berukuran 40-100 gram.
Begitu juga aturan pembatasan penangkapan lobster dewasa berdasarkan WPP untuk menjaga keberlanjutan lobster di alam.
Penangkapan benur atau BBL diharapkan sebagai upaya memanfaatkan SDA untuk sebesar besar kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan sesuai amanat undang-undang serta menjadi bagian dari upaya membangun industri lobster yang hebat berbasis budidaya (Mariculture).
“Diperlukan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, masyarakat, serta dukungan media untuk membangun budidaya lobster sebagai kebanggaan Indonesia,” pungkasnya.
Sebagai catatan Kementerian KKP pada Maret lalu mengungkapkan untuk pemenuhan pasar lobster tropis dunia selama 2020, Indonesia baru berkontribusi sebesar 2.022 ton (4,21%) dari total kebutuhan 51.042 ton. KKP menargetkan produksi lobster dari kegiatan budi daya dapat mencapai 22.655 ton pada 2024








