hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Debat Margono – Samsi

Ambtenaar itu menghadapi situasi sulit, antara menjalankan tugas menyebarkan paham koperasi kepada masyarakat Indonesia dan disisi lain menghadapi tuduhan sebagai antek pemerintahan kolonial yang menyengsarakan rakyat. Dan Margono mengambil pilihan yang pertama, ia harus menertibkan ribuan koperasi liar dan menegakkan kembali pamor koperasi sebagai entitas bisnis alih-alih alat politik pemerintah kolonial.

debat margono samsi
Ilustrasi Debat Margono Samsi

Bukannya tanpa risiko, Margono sadar bahwa ia berdiri di tempat yang salah sehingga hujatan pun tak terelakkan. Oleh sebagian pers Indonesia pemilik nama lengkap Raden Mas Margono Djojohadikusumo itu diberi label “Renegat” dan “Terompet” pemerintahan kolonial.

Kala itu, di tahun 1930 pemerintah kolonial menunjuk Margono untuk memimpin ‘Cooperatiedienst (Jawatan Koperasi).Nama yang mentereng itu dipimpinnnya seorang diri saja dengan tugas utama mengenalkan koperasi versi pemerintah kolonial ke tengah masyarakat.

Hujatan terberat datang dari tokoh ekonomi pergerakan Samsi Sastrawidagda, senior dan mentor Bung Hatta saat berkelana ke Skandinavia di tahun 1925. Doktor ekonomi pertama lulusan Roterdam, Belanda, itu menuding tidak ada artinya semua kerja keras Margono membumikan koperasi yang hanya berkonotasi subsidi alih-alih koperasi universal yang menjunjung tinggi prinsip jati diri.

Tetapi julukan sebagai “Renegat” itu membuat Margono frustrasi. Ia merasa dibuang oleh bangsanya sendiri. “Julukan itu menekan jiwa saya lebih dari setahun lamanya,” keluh Margono dalam bukunya, Kenang-Kenangan dari Tiga Zaman.

Ia memberanikan diri untuk mengundang Samsi berdialog di tempat netral, di rumah dr Soetomo, yang sudah dikenal sebagai tokoh koperasi dan inisiator Boedi Oetomo 1908. Dokter lulusan School Tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) itu menghadirkan keduanya dalam sebuah perdebatan yang sengit.

Samsi menyerang Margono dengan berbagai pertanyaan idiologis yang menyudutkan, dan Margono yang seolah berada di posisi tertuduh berupaya mengatasi agresivitas Samsi melalui pendekatan praksis empiris berdasar realitas yang hadir di tengah masyarakat.

Sejak 1908 ketika koperasi mulai dikenalkan oleh Boedi Oetomo hingga koperasi Setia Oesaha di bawah bendera Sarekat Islam pada 1913, semuanya tidak berjalan mulus lantaran berada di seberang kebijakan penguasa.

Koperasi kala itu tidak hanya dibangun dengan pendekatan emosional, (pertemanan, kelompok atau agama) tapi digiring ke ajang politik praktis.

Bagi Margono apa jadinya nasib perkoperasian jika tidak dibangun melalui pendekatan yang rasional, bahwa sebagai entitas bisnis maka koperasi kudu ditopang oleh fondasi kokoh seperti manajemen, permodalan dan visi bisnis yang kuat dari para pengelolanya. Tetapi, koperasi juga nonsens tumbuh hanya bermodal kebijakan pihak penguasa.

Kendati begitu tajam perbedaan visi yang muncul dalam debat sengit itu, namun Margono dan Samsi sepakat dengan pandangan bahwa cara paling pas dalam memperbaiki ekonomi bangsa adalah koperasi. Pendapat senada yang belakangan dipertegas oleh Bung Hatta,

“Satu-satunya jalan bagi rakyat untuk melepaskan diri dari kemiskinan ialah dengan memajukan koperasi di segala bidang”.

Margono dan Samsi menyadari bahwa entitas koperasi masih jauh dari konotasi badan usaha berlandaskan prinsip dan tata kelola yang sesuai kaidah ekonomi formal. Samsi memang teoritikus berpengalaman untuk urusan ekonomi koperasi dan Margono adalah pengabdi yang fanatik untuk pengembangan koperasi. Perdebatan itu ditutup dengan baik, di mana keduanya sepakat untuk saling menghormati profesi masing-masing.

Dalam pengantar Buku 10 Tahun Koperasi (1930-1940) karangan Margono Djojohadikusumo, Dawam Rahardjo menulis kendati sudah berbuat banyak dalam memperjuangkan gagasan koperasi di masa-masa sulit, namun nama Margono tidak dikenal sebagai tokoh koperasi.

Seperti juga halnya Samsi, introduktor koperasi di tahun-tahun awal pergerakan kemerdekaan ini, namanya nyaris tak dikenal. Padahal keduanya, Margono (1894) dan Samsi (1984) adalah anak-anak semangat zaman yang lahir di pengujung abad 19, seperti halnya Soetomo (1888), Kartini (1879), Douwes Deker (1879), HOS Tjokroaminoto (1882), Tjipto Mangoenkoesoemo (1886) dan tokoh semangat zaman lainnya yang merintis lahirnya negara Indonesia. Itu kah sebabnya mengapa sejarah perlu ditulis ulang? []

pasang iklan di sini
octa vaganza