hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Dari Tulang dan Kayu Berserakan, Ela Marnia Buat Produk Kerajinan

JEMBER—Limbah yang kerap dinilai tak berharga, di tangan orang yang punya kreativitas tinggi bisa diubah jadi produk bernilai.

Ela Marnia, seorang ibu rumah tangga dari Dusun Kebon, Desa Tutul, Kecamatan Balung, Kabupaten Jember  melihat begitu banyak limbah kayu dan  tulang berserakan hingga memberikannya ide untuk manfaatkannya menjadi produk  barang yang berharga.

Desa kediamannya memang pusat  pengerajin tasbeh dari bahan kayu ,tulang dan resin. Sang suami adalah buruh membuat produk tersebut. Perempuan tamatan SMK ini juga awalnya seorang buruh.

Pada 2007, usahanya dimulai dengan brand Aldo Agarwood.  Nama itu diambil dari Aldo putranya nomor dua dan  agarwood yang artinya kayu gaharu

“Untuk modal awal saya hanya mencari limbah bekas orang-orang  yang terbuang. Saya dbeli dengan harga Rp50 ribu per100 kilogaram,” ujar perempuan kelahiran 1982 ini ketika dihubungi Peluang, Jumat (12/11/21).

Dalam membuat produk kerajinannya, Ela mengutamakan kepuasan pelanggan dengan selalu memberikan model dan jenis aksesoris yang sedang tren saat ini.

“Semua produk yang dihasilkan oleh Aldo Agarwood asli buatan tangan. Bahan yang digunakan pun terbuat dari tulang dan kayu,” ungkap Ela. 

Limbah tulang dan kayu  dikombinasikan dengan ikatan tali Jepang, serta beberapa material lainnya menjadi aksesoris yang terkesan etnik dan artistik, memiliki nilai jual berbeda dari yang lain. 

Selain itu, semua aksesorisnya dibuat dengan tangan, sehingga mengandalkan tenaga kerja lokal ketimbang memanfaatkan mesin. Praktis kerajinan ini membutuhkan kreativitas dan inovasi.

Aldo Agarwood memproduksi kalung, gelang, tasbih, tongkat komando ,  pipa rokok, tongkat jalan dengan harga produk berkisar Rp15.000 hingga Rp1.000.000.  UKM yang dipimpinnya menyerap lima tenaga kerja.

Ela menyampaikan bahwa produknya dipasarkan tidak saja di sekitar Jember, tetapi juga Bali, Jkaarta hingga Singapura dan Malaysia. Sayangnya pada masa pandemi penjualan produksi menurunm hingga dia mengandalkan penjualan kepada teman-teman dan kenalan dekatnya.

Dia mengaku tetap bertahan sebagai wirausaha walau menghadapi berbagai kendala.

“Cita-cita saya untuk jadi wirausahan,karena saya berpikir dari sebelumnya sekecil apapun usaha saya bahwa saya sebagai bosnya,” tutup Ela (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate