
PeluangNews, Jakarta-Berawal dari sebuah koperasi kecil bernama Koperasi Perikanan Mina Rizki Abadi (KOMIRA) yang lahir di tengah masa reformasi Indonesia pada 1999, Komira tumbuh dari usaha sederhana berbasis kepercayaan dan ketahanan mental, sebelum berkembang menjadi holding UMKM perikanan yang diperhitungkan di tingkat nasional dan internasional.
Sejak awal didirikan oleh Muhammad Yusuf Ramli, Komira tidak berjalan sendiri. Perusahaan ini mendapat penguatan fondasi nilai dan mental dari sejumlah tokoh, di antaranya KH Maksum, Woo Changki, dan Dokter Lucas.
Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter Komira sebagai usaha yang adaptif dan berorientasi jangka panjang.
Direktur Utama PT Satya Trinadi Komira Perkasa, Emil Arifin, mengatakan perjalanan Komira dibangun melalui proses bertahap dan penuh ujian.
“Komira lahir di masa yang tidak mudah. Reformasi adalah masa transisi, tapi justru di situ kami belajar bertahan, membaca peluang, dan membangun kepercayaan pasar,” ujar Emil, dalam keterangan tertulisnya kepada PeluangNews, Kamis (8/1/2026).

Ia menjelaskan, perjalanan usaha Komira dimulai dari skala paling dasar.
“Alhamdulillah, perjalanan 25 tahun ini tidak terasa. Kami berangkat dari sewa lapak untuk jualan, lalu sewa gudang agar volume penjualan bisa meningkat, kemudian masuk ke hulu untuk produksi sendiri, sampai akhirnya mampu membeli gudang di beberapa kota besar di Jakarta dan Pulau Jawa,” katanya.
Dalam strategi bisnis, Komira fokus mengembangkan produk ikan pelagis seperti layang, kembung, tongkol, cakalang, dan tuna. Untuk pasar domestik, produk diarahkan pada kebutuhan pemindangan, sementara untuk pasar ekspor Komira memilih ikan layang sebagai umpan tuna serta ikan layur dan tuna untuk konsumsi.
Menurut Emil, pilihan produk tersebut bukan keputusan instan.
“Produk yang kami branding itu melalui proses trial and error yang panjang. Kami jatuh bangun, tapi dari situ kami belajar memahami pasar dan memperkuat posisi kami,” ujarnya.
Ketangguhan Komira diuji dalam berbagai krisis, termasuk pandemi Covid-19. Namun perusahaan tetap bertahan dan berkembang berkat kemampuan beradaptasi dan konsistensi prinsip usaha. Dari hanya tiga karyawan di awal berdiri, kini Komira mempekerjakan lebih dari 500 orang.
“Tantangan terbesar kami saat ini selalu terkait sumber daya manusia. Bisnis ini sangat inklusif dan peran manusia menjadi kunci utama. Integritas adalah nilai yang sangat kami jaga,” kata Emil.
Selain itu, tantangan lain datang dari ketersediaan bahan baku dan fluktuasi harga ikan yang bersifat musiman. Emil menegaskan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas.
“Kami sangat membutuhkan kebijakan yang bisa menjaga keseimbangan harga dan pasokan. Pemerintah masih kami harapkan menjadi garda penjaga stabilitas ini,” ucapnya.
Dalam menghadapi persaingan, Komira memilih pendekatan kolaboratif.
“Bagi kami, kompetitor bukan musuh. Satu musuh itu terlalu banyak, seratus teman pun masih kurang. Dari kompetisi, kami belajar kreativitas, inovasi, dan peningkatan teknologi,” ujar Emil.
Sebagai holding UMKM, Komira saat ini membina sekitar 150 pengusaha pemindang skala mikro, kecil, dan menengah yang tergabung dalam Komira Sinergi. Meski dampak finansial belum terasa signifikan, Emil menilai langkah ini sebagai investasi sosial jangka panjang.
“Dampak itu tidak selalu harus langsung bicara omzet. Menjadi holding UMKM membuat kami lebih bermanfaat bagi ekosistem perikanan,” katanya.
Sementara di pasar global, Komira telah mengekspor produk ke Jepang, Korea Selatan, China, Vietnam, Malaysia, hingga Port Louis di Mauritius. Saat ini, perusahaan juga tengah memproses perluasan ekspor ke Rusia dan Amerika Serikat.
Emil berharap pemerintah dan para pemangku kepentingan menghadirkan kebijakan yang tepat guna dan tepat sasaran.
“Pemerintah seharusnya menjadi pengarah pasar dan mendorong pengusaha lokal agar bisa bersaing. Kebijakan yang terukur akan sangat membantu UMKM perikanan tumbuh berkelanjutan,” tegasnya.
Dengan pengalaman seperempat abad, Komira kini memantapkan langkah untuk memperkuat produk unggulan, memperluas pasar ekspor, serta membuka ruang pertumbuhan bagi UMKM binaan, sambil tetap menjaga nilai adaptasi dan ketahanan yang menjadi napas perusahaan sejak awal berdiri.








