
PeluangNews, Bogor – Suasana Aula Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Selasa (24/02/2026) pagi, tak seperti biasanya. Jika umumnya ruangan itu dipenuhi pembahasan administratif dan laporan rutin, kali ini yang mengemuka justru gagasan besar tentang koperasi sebagai penggerak ekonomi sekaligus kekuatan sosial masyarakat.
Dalam forum literasi internal bertajuk “Selasa Membaca”, jajaran pegawai kecamatan mendapat pemaparan langsung dari manajemen Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). Hadir sebagai pemateri, Manajer Regional Basori dan Manajer Cabang Ciomas Aldi Rifai memaparkan siklus bisnis dan ekosistem pemberdayaan yang dijalankan BMI Group.
Bukan buku yang dibedah pagi itu. Melainkan cara pandang.
Sekretaris Kecamatan Tamansari, Teguh Sugiharto, mengakui materi yang disampaikan membuka perspektif baru tentang peran koperasi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kopsyah BMI atas kesediaannya menjadi pemateri. Kami mendapat pengetahuan baru bahwa koperasi tidak hanya bicara simpan pinjam, tetapi merambah semua lini kebutuhan anggota. Mulai dari handphone, konstruksi, hingga kebutuhan ibadah seperti umrah dan haji,” ujarnya.
Selama ini, koperasi kerap dipersepsikan sebatas lembaga pinjaman. Namun dalam forum tersebut, peserta diperlihatkan bagaimana koperasi dapat membangun ekosistem ekonomi yang saling terhubung — dari pembiayaan usaha, pengadaan kebutuhan anggota, hingga layanan berbasis syariah.
Yang membuat jajaran kecamatan semakin terkesan adalah keseimbangan antara orientasi bisnis dan tanggung jawab sosial. Teguh menyinggung peresmian HRSH ke-545 di Desa Sukaresmi serta pembangunan sanitasi dhuafa di Desa Sukaluyu yang diberikan kepada penerima non-anggota.
“Itu bukti koperasi tidak hanya mengejar bisnis, tetapi benar-benar berpihak pada kesejahteraan anggota dan warganya,” tegasnya.
Diskusi berlangsung dinamis. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, mulai dari mekanisme keanggotaan, skema pembiayaan sehat, hingga pola pemberdayaan masyarakat. Namun momen paling mencolok terjadi di akhir sesi.
Sekcam Teguh bersama tujuh pegawai Kecamatan Tamansari resmi mendaftar menjadi anggota Kopsyah BMI. Keputusan itu disebut sebagai tindak lanjut dari pemahaman yang baru mereka peroleh, bukan langkah spontan tanpa pertimbangan.
“Pertemuan ini membuat kami memahami koperasi secara utuh. Pegawai yang sudah menjadi anggota bisa mengajak warga lain, karena kami sudah melihat sendiri manfaatnya,” katanya.
Langkah tersebut juga akan ditindaklanjuti dengan rencana sinergi antara koperasi dan Kelompok Wanita Tani (KWT) di desa-desa wilayah Tamansari, sebagai bagian dari penguatan ekonomi berbasis komunitas.
Secara terpisah, Presiden Direktur Koperasi BMI Group, Kamaruddin Batubara, menyambut baik keterbukaan Pemerintah Kecamatan Tamansari terhadap literasi koperasi. Menurut pria yang akrab disapa Kambara itu, kolaborasi pemerintah dan koperasi adalah fondasi penting dalam membangun ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.
“Kami tidak sedang menawarkan produk. Kami sedang menawarkan cara pandang. Bahwa koperasi adalah alat perjuangan ekonomi rakyat. Jika pemerintah dan koperasi berjalan beriringan, maka dampaknya akan jauh lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menambahkan, koperasi sering disalahpahami hanya sebagai lembaga simpan pinjam. Padahal dalam filosofi dasarnya, koperasi adalah gerakan ekonomi yang menumbuhkan kemandirian sekaligus solidaritas sosial.
“Di BMI, bisnis dan sosial tidak dipisahkan. Keduanya berjalan beriringan. Dari kencleng ZISWAFM anggota, lahir rumah hibah, ambulans gratis, sanitasi dhuafa, hingga pemberdayaan ekonomi. Inilah makna koperasi yang sesungguhnya: dari anggota, oleh anggota, untuk kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Kambara menegaskan pentingnya pendidikan koperasi bagi aparatur pemerintahan agar lahir kebijakan yang berpihak pada ekonomi rakyat.
“Kalau aparatur negara memahami ekosistem koperasi secara benar, maka akan lahir sinergi yang sehat. Bukan sekadar hubungan administratif, tetapi kemitraan strategis membangun peradaban ekonomi berbasis gotong royong,” katanya.
Ia berharap langkah Kecamatan Tamansari ini menjadi contoh bagi wilayah lain. Menurutnya, semakin banyak pemangku kebijakan yang memahami koperasi secara utuh, semakin kokoh pula fondasi ekonomi masyarakat di tingkat desa dan kecamatan.
“Koperasi bukan milik segelintir orang. Koperasi adalah rumah bersama. Dan ketika pemerintah ikut masuk ke dalam rumah itu, maka kepercayaan masyarakat akan semakin tumbuh,” pungkasnya.








