hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Dari Bengkel Kayu ke Perguruan Tinggi, Kisah Fransiskus Siku Sarjanakan Anak Bersama KSP Kopdit Pintu Air

Fransiskus Siku, seorang pengrajin mebel yang telah merintis usahanya sejak tahun 1988
Fransiskus Siku, seorang pengrajin mebel yang telah merintis usahanya sejak tahun 1988.

PeluangNews, Maumere – Di sebuah bengkel kayu sederhana di Dusun Tetunggawa, Desa Done, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT, deru mesin serut kayu memecah keheningan pagi.

Di sanalah Fransiskus Siku, seorang pengrajin mebel yang telah merintis usahanya sejak tahun 1988, mengadu nasib.

Perjalanan panjang dari menggunakan alat manual hingga kini beralih ke mesin modern menjadi saksi bisu perjuangannya menyekolahkan keempat buah hatinya.

Namun, Fransiskus mengaku lompatan besar usahanya tidak lepas dari dukungan KSP Kopdit Pintu Air Cabang Magepanda.

Bergabung sejak tahun 2023, Francis merasakan sentuhan nyata koperasi ini melalui program Jempola (Jemput Bola) yang menjadi motor penggerak usaha mebelnya.

Buah Manis Kerja Keras dan Dukungan Koperasi

Bagi Francis, mebel bukan sekadar tumpukan kayu, melainkan jembatan masa depan bagi anak-anaknya.

Dari hasil pembuatan kusen, daun pintu, jendela, hingga lemari dan tempat tidur, ia berhasil mengantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan.

“Anak saya ada empat. Yang sulung sudah sarjana Teknik Sipil, yang kedua juga sudah selesai dan bekerja. Yang ketiga bekerja di Kalimantan, dan yang bungsu saat ini sedang menempuh kuliah di Unipa. Semuanya ini hasil dari usaha mebel yang didukung Pintu Air,” ungkap Fransiskus dengan nada bangga, Rabu, (25/2/2026).

Kemandirian ekonomi keluarga Fransiskus kian kokoh. Setelah pinjaman Jempola miliknya lunas, sang istri pun turut mengambil pinjaman umum untuk menambah modal usaha.

Sinergi suami-istri dan dukungan modal yang tepat membuat perputaran ekonomi keluarga mereka berjalan lancar.

Pelayanan yang Memanusiakan Anggota

Bukan hanya soal modal, Fransiskus sangat mengapresiasi aspek kekeluargaan yang ditonjolkan oleh staf KSP Kopdit Pintu Air.

Baginya, kenyamanan anggota adalah hal utama yang ia rasakan selama menjadi bagian dari koperasi ini.

“Pinjaman tidak sulit dan sangat membantu anggota yang benar-benar ingin berusaha. Karyawan yang datang melayani selalu mengedepankan komunikasi yang santun tanpa tekanan,” jelasnya.

Meski merasa puas dengan sistem pelayanan yang ada, Fransiskus memiliki secercah harapan untuk kemajuan KSP Kopdit Pintu Air, khususnya di Cabang Magepanda.

Sebagai anggota yang rutin berkunjung ke kantor setiap bulan, ia memimpikan fasilitas yang lebih representatif.

“Pesannya, kalau bisa ke depan kantor cabang di Magepanda dibangun lebih besar lagi agar kami anggota lebih nyaman saat datang,” harapnya menutup pembicaraan.

Senada dengan pengakuan anggotanya, Manager KSP Kopdit Pintu Air Cabang Magepanda, Raymundus Raja, menegaskan bahwa koperasi ini memang berdiri untuk menjadi solusi bagi kesulitan anggota.

Raymond menjelaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pendekatan langsung kepada anggota yang membutuhkan modal usaha, khususnya melalui program Jempola sebagai pintu masuk bagi calon anggota baru.

“Untuk saat ini kita memang pendekatan kita lebih fokus ke anggota-anggota yang memang membutuhkan modal untuk usaha-usaha produktif,” jelas Raymondus.

Hingga saat ini, Cabang Magepanda mencatat performa keuangan yang solid per Desember 2025, dengan total aset Rp819.1 juta lebih, simpanan Non saham, Rp3,9 miliar lebih, simpanan saham Rp3,8 miliar lebih dan jumlah anggota 2207 orang.

Terkait tantangan pinjaman macet, Raymond menekankan bahwa Pintu Air selalu mencari jalan keluar melalui diskusi dan motivasi, bukan tekanan.

“Koperasi ini milik anggota. Kalau ada kendala, jangan ragu datang ke kantor. Kami siap mendengar keluhan dan mencari solusi bersama agar anggota tetap bisa berusaha,” ajaknya.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate