hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Dari Abu Kebakaran ke Rumah Harapan: Kopsyah BMI Serahkan HRSH ke-561 dan 562 di Serang

Dari Abu Kebakaran ke Rumah Harapan: Kopsyah BMI Serahkan HRSH ke-561 dan 562 di Serang
Dari abu kebakaran ke rumah harapan: Kopsyah BMI serahkan HRSH ke-561 dan 562 di Serang/dok.humas

PeluangNews, Serang – Api pernah melahap segalanya—dinding bilik, atap reyot, dan tempat berteduh yang puluhan tahun menjadi saksi perjuangan hidup. Namun dari abu kebakaran dan kerasnya nasib, harapan kembali tumbuh di Kampung Gerendong dan Kampung Mongpok, Kamis (29/1/2026), saat Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI) menyerahkan Hibah Rumah Siap Huni (HRSH) ke-561 dan 562.

Penerima HRSH ke-561 adalah Suripah (65), warga Kampung Gerendong RT 003/001, Desa Petir, Kecamatan Petir. Perempuan lansia ini hidup seorang diri dan menggantungkan penghasilan dari pekerjaan serabutan serta buruh ngoyos sawah dengan upah sekitar Rp50 ribu per hari—itu pun jika ada pekerjaan.

Penghasilan yang pas-pasan membuat Suripah nyaris tak pernah mampu memenuhi kebutuhan harian, apalagi memperbaiki rumah. Hingga suatu malam, cobaan terberat datang: gubuk berdinding bilik yang ia tempati hangus dilalap si jago merah.

“Rumah saya terbakar ketika saya sedang di rumah tetangga. Tak ada yang tersisa selain doa,” tuturnya lirih. Tanpa air mata berlebihan, Suripah memilih menerima musibah itu dengan keikhlasan yang justru memantulkan keteguhan hatinya.

Doa-doa itulah yang kemudian menemukan jalannya. Melalui infak yang dikelola Koperasi Syariah BMI, bantuan pembangunan rumah pun datang. Tanpa pernah disangka, Suripah—yang bukan anggota koperasi—menjadi penerima HRSH ke-561 dengan total biaya pembangunan sebesar Rp36 juta. Dukungan juga mengalir dari Pemerintah Desa Petir dan masyarakat sekitar berupa sembako serta pakaian pascakebakaran.

Pada hari yang sama, di lokasi berbeda, HRSH ke-562 diserahkan kepada Amnah (50), anggota Kopsyah BMI yang tinggal di Kampung Mongpok RT 013/003, Desa Mongpok, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang. Bersama suaminya, Adang, Amnah menjalani hidup dari pekerjaan serabutan: buruh tani, mencari pakan ternak, beternak sistem bagi hasil, hingga memproduksi keripik singkong.

Upah buruh cangkul sawah Rp50 ribu per hari dan kuli tandur Rp40 ribu per hari yang diterima Amnah jelas belum mencukupi kebutuhan keluarga. Dari empat anak, satu telah menikah, dua terpaksa putus sekolah, dan satu masih duduk di bangku SMP.

“Untuk makan saja sering pas-pasan, apalagi memperbaiki rumah,” ungkap Amnah pelan.

Namun keteguhan doa dan kerja keras akhirnya berbuah jawaban. Melalui infak Kopsyah BMI, keluarga sederhana ini memperoleh rumah layak huni—sesuatu yang sebelumnya tak pernah mereka bayangkan.

Dengan mata berkaca-kaca, Amnah dan Adang menyampaikan terima kasih serta mengajak masyarakat untuk bergabung menjadi anggota Kopsyah BMI. Mereka berharap koperasi ini terus tumbuh sebagai jembatan kebaikan bagi lebih banyak warga yang membutuhkan.

Dua rumah yang diserahkan hari itu bukan sekadar tembok dan atap. Ia adalah simbol kepedulian, bukti bahwa solidaritas dan infak yang dikelola secara amanah mampu mengubah air mata menjadi senyum, serta keputusasaan menjadi harapan baru.

Melalui program HRSH, Koperasi Syariah BMI kembali menegaskan komitmennya menghadirkan keadilan sosial dan keberkahan—langsung ke pintu-pintu rumah mereka yang paling membutuhkan. (RO/Aji)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate