JAKARTA—Kementerian Pertanian memprediksi stol beras nasional sudah menembus 10 juta ton dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, mengungkapkan, pada musim penanaman dan panen pertama tahun ini (Januari-Juni), total produksi beras ditaksir mencapai 17,5 juta ton sementara konsumsi pada waktu yang sama sebanyak 14,6 juta ton atau surplus beras sekitar 3 juta ton.
Sementara stok beras sisa 2020 kurang lebih 7,3 juta ton. Kalau dijumlahkan maka diperkirakan total stok beras kita sangat siap sampai 9-10 juta ton,” kata terang dalam Konferensi Pers usai Ratas KUR Pertanian, Senin (26/7/21).
Kementan menargetkan pada panen kedua (Juli-Desember) penanaman padi di lahan seluar 5 juta hektare dengan target produksi 14 juta ton.
Target ini sangat mencukupi konsumsi beras sekira 14 juta ton lantaran stok surplus saat ini juga besar.
Tentunya kondisi ini harus didukung kondisi cuaca hingga akhir tahun bersahabat sehingga kegiatan produksi padi oleh para petani tidak mengalami hambatan besar.
“Saat ini dalam situasi kering basah dan itu sangat memungkinkan untuk kia mencapai surplus,” ucap Syahrul.
Meskipun demikin Syahrul mengingatkan pemerintah juga harus memikirkan saluran distribusi agar situasi harga di petani tidak jatuh. Salah satunya melalui Perum Bulog yang siap melakukan penyerapan gabah/beras dari petani.
Mentan berharap pemerintah mengawal 163 ribu perusahaan penggilingan padi di Indonesia agar seluruhnya menyerap hasil produksi petani dan mendistribusikannya ke pasar.
“Ini semua akan menyerap termasuk di industri hotel, restoran, dan katering meskipun memang saat ini sedang ada sedikit penurunan konsumsi,” pungkas Syahrul.








