
PeluangNews, Jakarta – Di tengah isu ketahanan pangan dan transisi energi yang kian menguat, inisiatif berbasis masyarakat menjadi fondasi penting dalam menciptakan perubahan nyata. Di Kapling Baru 2, Kota Cilegon, Kecamatan Pulau Merak, sekelompok ibu rumah tangga membuktikan bahwa transformasi lingkungan dan ekonomi dapat berjalan beriringan melalui kebun hidroponik yang mereka kelola.
Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Wahid Sapa, para ibu di RW 06 kini mengembangkan pertanian hidroponik yang tidak hanya menjadi sumber pangan keluarga, tetapi juga simbol perubahan menuju energi bersih di tingkat komunitas. Program bertajuk “KreaSea Tumbuh” ini merupakan inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari PT Pertamina Energy Terminal melalui Terminal LPG Tanjung Sekong.
Program tersebut dirancang sebagai bagian dari pilar Green Terminal, yang mengintegrasikan aspek keberlanjutan lingkungan dengan pemberdayaan masyarakat sekitar wilayah operasi.
Inovasi Energi Bersih dan Efisiensi Operasional
Selaras dengan visi Green Terminal, operasional rumah hidroponik kini beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Perusahaan melakukan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 4,4 kWp sebagai sumber energi utama. Pemanfaatan energi surya ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 1,75 ton CO2 eq per tahun.
Tak hanya pada sisi energi, dukungan teknis juga diberikan untuk mengatasi kendala aliran air yang sebelumnya menjadi hambatan produksi. Melalui inovasi incremental, dipasang tangki tekan air guna menstabilkan distribusi air ke rak tanaman. Selain itu, sistem double wall insulation diterapkan untuk melindungi pipa dari pertumbuhan lumut sehingga aliran air tetap lancar dan efisien.
Transformasi Ekonomi dan Pemberdayaan Sosial
Sejak pembangunan rumah hidroponik pada September 2024, sistem pertanian yang semula dilakukan secara manual dan belum terstruktur kini berubah menjadi operasional yang lebih tertata dan berkelanjutan.
Partisipasi warga pun meningkat signifikan. Jika pada 2023 anggota hanya berjumlah sembilan orang, kini jumlahnya berkembang menjadi 30 orang. Aktivitas yang sebelumnya bersifat coba-coba, kini menjadi kegiatan rutin yang tak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga mulai memberikan tambahan penghasilan bagi keluarga.
Ketua KWT Wahid Sapa, Ani Sosiawati, mengungkapkan bahwa perubahan tersebut terasa nyata sejak adanya dukungan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina.
“Awalnya program hidroponik dilakukan secara manual, namun setelah didukung bantuan rumah hidroponik dan pendampingan dari Pertamina, program hidroponik sekarang lebih tertata dan hasil panen lebih maksimal,” ujarnya.
Lebih dari sekadar bercocok tanam, kebun hidroponik ini menjadi ruang belajar bersama bagi ibu-ibu setempat. Ani menilai manfaat yang dirasakan tidak hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga peningkatan keterampilan.
“Dari yang awalnya tidak paham, sekarang kami bisa berbagi pengetahuan ke keluarga, teman-teman yang lain,” kata Ani.
Keuntungan hasil panen sementara ini belum dibagikan, karena akan disisihkan dan direncanakan untuk dibagikan menjelang bulan puasa sebagai bentuk kebersamaan. “Keuntungan belum dibagi dulu, rencananya menjelang bulan puasa baru dibagikan untuk membantu kebutuhan ibu-ibu,” tambahnya.
Ke depan, KWT Wahid Sapa berharap program tidak berhenti pada budidaya sayuran. “Harapan kami tidak hanya di sayuran, tapi program ini berkembang ke budidaya buah,” ujar Ani.
Diminati Warga dan Libatkan Kelompok Rentan
Hasil panen hidroponik KWT Wahid Sapa juga mendapat respons positif dari masyarakat sekitar. Mariana, warga Kapling Lama, mengaku rutin membeli sayuran setiap kali panen.
“Saya sudah sering beli sayur di sini, biasanya setiap panen pasti beli. Soalnya bagus-bagus dan awet,” ujarnya. Ia menilai kualitas sayuran hidroponik tersebut lebih unggul dan harganya lebih terjangkau dibandingkan yang dijual di pasar.
Mariana pun berharap produksi dapat terus ditingkatkan. “Mudah-mudahan bisa lebih banyak lagi produksinya, jadi stoknya lebih banyak dan panennya lebih cepat,” katanya.
Program KreaSea Tumbuh juga menyasar kelompok rentan untuk meningkatkan kapabilitas individu. Selain 30 anggota KWT, program ini melibatkan Pemuda Berani Inovasi (PBI), keluarga penerima PKH, lansia, hingga pengangguran usia produktif untuk mendapatkan pelatihan keterampilan.
Melalui integrasi teknologi ramah lingkungan berupa PLTS dan pemberdayaan masyarakat, Pertamina Energy Terminal Tanjung Sekong menunjukkan bahwa operasional terminal energi dapat berjalan selaras dengan peningkatan kesejahteraan warga sekitar, sekaligus mendukung langkah menuju sertifikasi Green Terminal Tanjung Sekong.








