hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

CSIS Sebut Ekonomi Indonesia 2026 Penuh Tantangan, Ini Daftar Risikonya

CSIS Sebut Ekonomi Indonesia 2026 Penuh Tantangan, Ini Daftar Risikonya
CSIS sebut ekonomi Indonesia 2026 penuh tantangan, suasana di industri garmen/Dok. Ist

PeluangNews, JakartaCenter for Strategic and International Studies (CSIS) menilai perekonomian Indonesia pada 2026 berpotensi menghadapi sejumlah tekanan serius. Setidaknya ada empat risiko utama yang dinilai bisa menghambat laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Keempat risiko tersebut meliputi perlambatan ekonomi global, terbatasnya ruang kebijakan fiskal dan moneter, meningkatnya pengangguran usia muda, serta potensi gejolak harga pangan dan energi.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, mengatakan kombinasi tekanan global dan masalah domestik membuat prospek ekonomi Indonesia ke depan penuh tantangan.

Risiko pertama datang dari kondisi ekonomi dunia yang diperkirakan masih melambat pada 2026. Dua negara dengan pengaruh besar terhadap ekonomi global, Amerika Serikat dan China, belum menunjukkan pemulihan yang kuat.

China saat ini menghadapi tekanan deflasi yang membuat pertumbuhan ekonominya tidak pasti. Sementara itu, Amerika Serikat dibebani defisit anggaran dan utang publik yang besar, yang memicu tekanan inflasi. Perlambatan juga terjadi di sejumlah negara Eropa seperti Inggris dan Jerman.

“Dampaknya, pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diperkirakan melambat dan cenderung suram,” kata Deni.

Situasi global semakin rumit akibat ketegangan geopolitik dan kebijakan perdagangan yang ketat. Konflik internasional, pembatasan ekspor chip dan mineral penting, hingga kebijakan tarif Amerika Serikat dinilai mengganggu rantai pasok dan menambah ketidakpastian.

Menurut Deni, kondisi ini bisa memicu gejolak di pasar keuangan global dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Ia mencatat, meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencetak rekor, dana asing justru banyak keluar dari pasar saham dan obligasi.

Akibatnya, nilai tukar rupiah melemah dan defisit neraca pembayaran melebar, yang pada akhirnya menekan cadangan devisa.

Baca Juga: Lampaui Target 2025, LPDB Koperasi Salurkan Dana Bergulir Rp1,7 Triliun

Risiko kedua berasal dari dalam negeri, terutama di sektor fiskal dan moneter. Deni menilai belanja pemerintah yang meningkat belum sepenuhnya diimbangi oleh penerimaan pajak yang optimal.

“Ketika belanja naik tetapi penerimaan pajak tidak tercapai, defisit fiskal akan membesar dan bisa mendekati atau melewati batas 3 persen dari PDB,” ujarnya.

Kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan utang pemerintah, terutama karena jatuh tempo utang mencapai Rp700–800 triliun per tahun. Di tengah persaingan global, biaya utang Indonesia dinilai masih relatif tinggi.

Risiko ketiga adalah meningkatnya pengangguran, khususnya di kalangan anak muda dan lulusan perguruan tinggi. Meski angka pengangguran secara umum rendah, banyak lapangan kerja baru justru berada di sektor informal.

Selain itu, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih terjadi. Sepanjang 2025, sekitar 80 ribu pekerja tercatat kehilangan pekerjaan, terutama di Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

“Pengangguran muda dan terdidik ini berbahaya karena bisa memicu ketidakpuasan sosial jika tidak segera tertangani,” kata Deni.

Risiko keempat berkaitan dengan potensi kenaikan harga pangan dan energi. Meski inflasi masih terkendali, harga bahan pangan bergejolak, terutama menjelang Ramadhan dan Idul Fitri.

Gangguan produksi akibat bencana alam juga berpotensi mendorong kenaikan harga beras dan komoditas pangan penting lainnya. Di sisi lain, harga energi masih rawan bergejolak akibat konflik global dan kebijakan ekonomi negara besar.

Deni menilai kenaikan harga energi dapat menekan inflasi dan daya beli masyarakat jika tidak diantisipasi sejak dini.

Untuk menghadapi berbagai risiko tersebut, CSIS mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif. Pemerintah diminta menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, memperkuat penerimaan pajak, serta mengelola utang secara hati-hati.

Selain itu, dukungan perlu diberikan kepada sektor padat karya, disertai perluasan program pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi anak muda. Pemerintah juga disarankan memperkuat perlindungan sosial serta menjaga pasokan pangan dan energi agar harga tetap stabil. (Aji)

pasang iklan di sini
octa vaganza