YOGYAKARTA—Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, Khaleili Nungki Hashifah lebih menyukai mencari uang sendiri dengan berjualan, daripada meminta uang kepada orangtuanya, Kebiasaan ini sempat berhenti, ketika dia mulai malu berjualan ketika duduk di bangku SMP dan SMA.
Namun kebiasaan berjualan kembali dilakukannya sewaktu duduk di bangku kuliah semester dua secara daring. Hanya saja Nungki masih menjual produk orang, hingga kurang puas.
“Akhirnya sebelum lulus kuliah, saya coba belajar untuk produksi batik sendiri. Ternyata produksi itu gampang dan saya merasa puas, hasilnya pun disukai banyak orang. Akhirnya saya terus produksi batik dan saya pasarkan sendiri via daring maupung luring,” papar Nungki kepada Peluang melalui Whatsapp, Kamis (28/1/21).
Modal awalnya Rp5 juta dikumpulkan dari hasil jerih payahnya berjualan daring untuk mulai produksi. Nungki memilih batik karena yakin, batik tidak ada mengenal kata basi dan mudah menjualnya.
Nungki memberi nama brandnya Creative Batik, dengan karakter kaya motif dan warna, tetapi tetap memakai sentuhan pakem Jawa. Motifnya berbagai tema, termausk kontemporer seperti gambar buku, tas, pensil (pendidikan) hingga olahraga, seperti basket dan golf.
Yang menarik usaha yang berbasis di Selokraman, Kotagede, Yogyakarta ini menggunakan cara pembuangan limbah dengan standar IPAL sehingga aman untuk lingkungan. Nungki kemudian melakukan pemberdayaan masyarakat dan perempuan.
“Mulai 2016, Creative Batik menyediakan pelatihan batik tulis abstrak kontemporer dengan tujuan selain edukasi, yaitu para peserta bisa berwirausaha batik,” tutur Nungki.
Creative Batik memiliki kapasitas produksi lebih dari 300 helai per bulan dengan berbagai jenis produk, mulai berbahan katun, ATBM sampai semua jenis sutera. Dia juga memproduksi pakaian jadi pria dan wanita, hingga sarung bantal bahkan masker totebag.
Creative batik mempunyai pasar domestik dan mancanegara. Harga per item berkisar Rp300 ribuan dan aksesoris sekitar Rp15 ribuan. Dengan jumlah karyawan tetap lima orang, delapan tidak tetap dan lima orang di divisi pelatihan batik, Nungki mampu meraup omzet sebelum pandemi rata-rata Rp50 juta per bulan.
“Kami juga terdampak pandemi Covid-19 dengan anjloknya pendapatan hingga 60 persen. Namun sejak pertengahan Maret, kami sudah mulai membuat baju APD/Hamzat dan masker untuk berbagai instansi, sewaktu masih sedikit yang membuatnya,” ungkap Nungki.
Ke depan, Creative Batik akan terus berinovasi motif dan warnanya. Nungki juga bertekad terus menebar ilmu ke masyarakat dan siapapun yang ingin belajar jadi wirausaha.
“Ini juga merupakan salah satu personal branding saya sebagai pemilik usaha. Alhamdulillah saya juga sudah mempunyai sertifikat kompetensi sebagai fasilitator pendidikan dan pelatihan UMKM,” tutupnya (Van).








