JAKARTA-—Jika tidak ada pandemi Covid-19 kondisi ekonomi Indonesia akan kembali poitif pada kuartal pertama 2021. Pasalnya Indonesia mampu melewati titik terendah pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 di mana terjadi kontraksi 5,3% Yoy.
Hal ini disampaikan ekonom Chatib Basri dalam Indonesia Palm Oil Conference 2020, Rabu (2/12/20).
“Hal ini terbukti dengan data pertumbuhan di kuartal III-2020 yang meski masih minus 3,49% yoy, tetapi membaik daripada kondisi perekonomian pada kuartal sebelumnya,” kata mantan Menteri Keuangan itu.
Sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2020 masih belum akan berada di zona positif. “Perkiraan saya, kuartal IV-2020 akan di tertitori negatif atau mendekati 0% dan baru positif di kuartal pertama tahun depan. Akan ada perbaikan, tapi polanya akan agak relatif lambat,” tambah Chatib.
Untuk pemulihan ekonomi Indonesia sendiri, Chatib yakin Indonesia bisa berada dalam pola pemulihan swoosh shaped atau seperti logo brand Nike. Hanya jika ada ada gelombang kedua pandemi, pola pemulihan bisa berubah bahkan bisa menjadi W-shaped.
Dia juga mengingatkan hal yang sulit bagi industri untuk mencapai level break even point. Terutama untuk bisnis yang mengandalkan pengalaman konsumen seperti perhotelan.
Ekspor Indonesia sangat bergantung kepada Tiongkok, sedangkan Cina juga bergantung kepada Eropa. Di saat yang bersamaan, ekonomi Eropa diperkirakan tidak akan pulih lebih cepat dari tahun 2022.
“Pemerintah harus memperkuat permintaan domestik demi proses pemulihan ekonomi,” tutup dia.








