YOGYAKARTA—Pada 1980-an, keluarga Lutfi Irwanto menjalankan bisnis perdagangan kulit mentah yang dibeli dari pejagal kemudian dijual lagi dengan harga Rp12 ribu per kilogramnya. Pada waktu itu kulit mentah boleh diekspor, namun kemudian ada regulasi yang membuat Lutfi sebagai pelanjut membanting stir untuk mengolah kulit mentah ini menjadi tas.
Kulit mentah ini harus diproses di pabrik baru hingga setengah jadi, baru bisa dibuat tas. Warga Yogyakarta ini bersama istrinya Yety Prasteyorini kemudian memutuskan mendirikan Rayya Stories pada 2014 dengan modal Rp10 jutaan. Nama Rayya dipakai karena mengacu pada sesuatu yang meriah besar.
Rayya Stories memilih kembali menghidupkan yang klasik dan mengedukasi penggemar produk kulit untuk menghargai sejarah dan proses yang lebih ramah lingkungan
“Bahan kulit nabati saya pilih karena ramah lingkungan dan berkelanjutan,” ucap Lutfi ketika dihubungi Peluang, Jumat (10/9/21).
Mereka lalu bergerak di industri hilir dan membuat produk kulit siap pakai, dengan sedapat mungkin meminimalkan dampak lingkungan. Pilihan pun jatuh pada proses penyamakan menggunakan bahan nabati dan pengolahan air limbah melalui tiga tahap aerasi. Tak cukup sampai di situ, produk-produk Rayya Stories pun terasa kian otentik dengan diaplikasikannya teknik jahit tangan.
Komitmen untuk mengurangi residu pengolahan kulit yang membahayakan kesehatan memunculkan gagasan agar kerajinan kulit ‘naik tingkat’.
Bagi Lutfi dan Yety, jahit tangan tidak hanya membuat produk lebih tahan lama dan unggul secara estetika, tetapi juga memberdayakan lebih banyak perajin dengan upah lebih layak.
Bisnisnya berkembang dengan delapan karyawan yang diambil dari penduduk sekitar kampung Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Sebuah tas dijual dengan harga antara Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta.
Setiap bulan Rayya Stories mampu memproduksi 300 tas dan meraup omzet rata-rata Rp50 juta per bulan. Sejak 2018 Rayya Stories sudah tembus Amerika Serikat, selain pasar nasional. Pria kelahiran Januari 1973 ini mengaku tidak terdampak Covid-19 karena penjulan lebih banyak dilakukan secara daring.
“Alhamdullilah tak satupun karyawan yang saya PHK di tengah pandemi,” ucap Lutfi (Irvan).
.





