Peluang, Jakarta – Di tengah kesibukan melayani para pasien di berbagai rumah sakit, dan perhatian sepenuhnya terfokus pada pekerjaan, ahli bedah saraf Satyanegara, mempunyai cara mengurangi rasa mumet dan jenuh. Panca indera terpaku pada alat-alat kesehatan dan mendiagnosis pasien dengan pemeriksaan gejala, identifikasi sakitnya pasien.
“Kalau sudah mumet, saya menyempatkan diri lihat-lihat berbagai koleksi saya, terutama patung, perangko dan koleksi lainnya. Setelah itu, saya fresh lagi. Ada koleksi (patung) dari zaman (kerajaan) Majapahit (abad ke-16),” kata Satyanegara di Jakarta, Selasa (25/4/2023).
Ia menempatkan berbagai koleksinya di ruang kerja dan ruang prakteknya di Rumah Sakit Tzu Chi, PIK (Pantai Indah Kapuk), Satya Negara Sunter (Jakarta Utara). Ia dibantu oleh asistennya untuk mengurus berbagai koleksinya. Ada patung Ganesha, patung 3 Monyet, patung Boneka dan lain terlihat apik dipajang di lemari display.
Ketika mau mencari koleksi patung baru, ia hubungi pemilik gallery antik yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur. “Kadang, saya browsing (koleksi patung di Probolinggo) di Youtube. Koleksi sebagian besar dari Indonesia, tapi (koleksi) pedang Samurai dari Jepang. Saya sempat terpikir untuk buka satu ruangan khusus untuk menempatkan berbagai koleksi,” ujar Satyanegara.
Selain patung, ia juga hobi filateli (perangko) untuk intermezo di tengah-tengah kesibukannya. Ia baru-baru ini membeli perangko Egypt yang usianya sudah 155 dan 151 tahun, dari seorang kolektor.
Perangko Egypt diproduksi tahun 1868 dan 1872. Karena sudah sangat tua, warnanya agak kuning coklat. Tapi gambarnya masih sangat jelas. “Sementara ini, hobinya (filateli) saya beli dan simpan. Saya tidak menikmati terus menerus, tapi kalau sedang praktik di Sunter (Rumah Sakit Satya Negara) saja, Selasa dan Kamis. Ini sangat berharga,” ungkap ketua tim dokter kepresidenan era Soeharto (presiden ke 2 RI; 1966 – 1998) dan Gus Dur (presiden ke 4 RI; Oktober 1999 – Juli 2001).
Ia mulai mengoleksi perangko sejak masih duduk di kelas 4 SD (tahun 1949) sampai kelas 6 SD. Lalu kegiatan hobinya berhenti sampai ketika ia pergi ke Jepang untuk studi di fakultas kedokteran Universitas Kyushu, di kota Fukuoka. Sehingga rentang waktu 15 thn, kondisinya vacuum (kegiatan mengoleksi).
Ia berangkat ke Jepang thn 1958, dan akhirnya kembali ke Indonesia tahun 1972. Lalu hobi mengoleksi dimulai lagi sekitar tahun 1975 sampai sekarang. Pada thn 1990, ia bersama rombongan pergi ke Jerman. Ia menyaksikan peristiwa sejarah runtuhnya tembok Berlin dan memborong berbagai perangko yang gambarnya berupa Tembok Berlin.
“Koleksi perangko saya yang gambarnya Tembok Berlin paling lengkap. Jerman Timur sebagai negara kan selama 40 tahun (1949 – 1989), tapi saya kunjungan ke Jerman Barat dan Jerman Timur saat peristiwa runtuhnya Tembok Berlin,” kata Satyanegara.
Ketika pertama kali mengoleksi perangko, Satyanegara hanya mampu beli yang harganya murah. Tapi sekarang, harganya menjadi mahal. Perangko yang sudah berusia sekitar 74 tahun tersebut sudah berwarna agak kuning kecoklat-coklatan.
Ia juga sering memperhatikan prangko terutama yang sudah dicap pos (penandaan pos; dibuat pada surat, paket, kartu pos atau sejenisnya yang menunjukkan tanggal dan waktu pengiriman barang tersebut ke layanan jasa pos). Dengan adanya cap pos, berarti surat/paket sudah dikirim kepada penerima.
“Saya tidak melulu melihat keindahan perangkonya. Saya pernah cek di Tokopedia (belanja online), berapa harga perangko yang masih ada cap pos. Setelah itu, saya terpikir, suratnya sebetulnya untuk siapa, itu yang lebih mendorong rasa ingin tahu saya. Ada beberapa koleksi saya, surat-surat dengan amplop dan perangko, perangko dengan cap pos,” kata penulis/penyusun Buku Ilmu Bedah Saraf edisi I s/d V. (alb)