dokter keuangan
dokter keuangan
octa vaganza

Budi Waseso Jadi Dirut Bulog

KOMISARIS Jenderal (Purn) Budi Waseso diangkat menjadi Direktur Utama Bulog menggantikan Djarot Kusumayakti. Triyana diangkat menjadi Direktur Keuangan menggantikan Pardiman. Pada saat yang sama, Kementerian BUMN juga menetapkan Teten Masduki sebagai Ketua Dewan Pengawas Bulog menggantikan Sudar Sastro Atmojo. Keputusan tersebut tertuang dalam SK Menteri BUMN Nomor: SK-116/MBU/04/2018.

Perombakan direksi di Perum Bulog merupakan salah satu langkah penyegaran manajemen perusahaan. “Untuk memperkuat perannya sebagai stabilisator harga pangan serta bahan pokok lainnya di luar beras, dalam rangka menjaga ketahanan pangan nasional,” ujar Deputi Bidang Usaha Industri Agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro.

Pemerintah, kata Wahyu, terus mendorong agar Perum Bulog sebagai perusahaan yang mengemban tugas dari pemerintah dapat menjalankan perannya untuk menjaga Harga Dasar Pembelian gabah petani, stabilisasi harga khususnya harga pokok, penyaluran program Bantuan Sosial Beras Sejahtera (Bansos Rastra), pengelolaan stok pangan dan bahan pangan lainnya di luar beras.

Wahyu juga menegaskan, pemerintah juga terus mendorong kestabilan harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya menjelang lebaran tahun 2018.

Oleh karena itu, pergantian direksi baru dalam manajemen Perum Bulog diharapkan mampu mendorong upaya pemerintah dalam stabilisasi harga dan penyediaan kebutuhan pangan bagi masyarakat terutama dalam hari-hari besar keagamaan.

Tentang tugas baru yang diembankan kepadanya, mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengaku akan langsung tancap gas mengatasi masalah pangan. terlebih sebentar lagi sudah memasuki bulan puasa dan lebaran. “Saya baru terima SK hari ini sebagai Direktur Utama Bulog. Tugas saya tentunya masalah pangan khususnya beras, nah yang paling penting adalah menjelang puasa dan lebaran. Tentu yang paling utama kesediaan dan kestabilan harga ya,” kata pria yang biasa disapa Buwas ini di Gedung BUMN, Jakarta.

Buwas menyadari tugas barunya ini tak bisa dibilang ringan. Bahwa dirinya yang terpilih menjadi Dirut Bulog, dia berharap tidak ada lagi kisruh permasalahan di sektor pangan. Untuk itu, dia akan bersinergi dengan Satgas Pangan untuk dapat menjaga stabilitas harga pangan.

“Di masa lalu saya kerja untuk kepentingan bangsa. Hari ini saya bekerja untuk kepentingan perut masyarakat Indonesia. Berat tantangannya, mudah-mudahan pangan bisa stabil, enggak ada yang mainin masalah pangan karena ini masalah masyarakat, masalah kepentingan orang banyak. Saya berharap itu,” ujarnya.

Masuknya Buwas diharapkan mampu membawa perubahan pada BUMN pangan tersebut. “Tugas utamanya membereskan data. Kalau datanya sudah beres, sudah benar, akan mudah atasi masalah. Stok berapa, panen berapa. Kalau data enggak bener ya salah semua, sama aja garbage in dan garabage out,” ujar Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Dwi Andreas.

Menurut Dwi, “Inpres No. 5/2015 harus diubah. HPP (harga pembelian pemerintah) yang Rp7.300/kg itu sudah enggak masuk akal. Harus dinaikkan. Selama itu enggak diubah, ya susah lagi”. Yang tak kalah penting, mantan Kepala BNN ini juga diminta bisa memberantas mafia pangan. “Tugas utamanya ya bersih-bersih-lah mafia di sana (Bulog), kalau memang firm ada,” kata dia.