
PeluangNews, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Task Force Supporting Penanggulangan Bencana melakukan survei dan pemetaan wilayah terdampak banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Survei dan pemetaan ini dilakukan untuk mendapatkan data spasial yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan penanganan bencana, baik pada fase tanggap darurat maupun pemulihan pascabencana.
Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Firman Prawiradisastra, menjelaskan bahwa tim survei dan pemetaan yang diterjunkan ke lapangan saat ini berjumlah enam orang. Tim tersebut dilengkapi dua unit Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan sensor LiDAR dan kamera beresolusi tinggi.
“Tim direncanakan bekerja selama 14 hari di lapangan untuk memastikan data yang dikumpulkan cukup lengkap dan detail,” ujarnya melalui keterangan pers BRIN yang dirilis Senin (15/12).
Menurut Firman, survei difokuskan pada pemetaan dampak kerusakan akibat bencana dilakukan secara spasial. Metode ini memungkinkan BRIN memotret kondisi wilayah terdampak secara menyeluruh, termasuk area yang sulit dijangkau dari darat. Badan riset itu melakukan survei dampak banjir, banjir bandang, dan longsor menggunakan wahana UAV yang dimiliki BRIN.
Tim survei BRIN akan bergerak ke sejumlah wilayah di Sumatra Utara, khususnya Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Wilayah tersebut dipilih karena mengalami dampak bencana yang cukup signifikan dan membutuhkan pemetaan rinci untuk mendukung proses penanganan dan pemulihan.
Data yang dikumpulkan meliputi peta wilayah terdampak bencana dengan cakupan area yang luas dan resolusi tinggi. Menurut Firman, data yang diperoleh akan digunakan untuk memperkirakan tingkat kerusakan secara detail, mulai dari perubahan bentang alam, area genangan, hingga potensi bahaya lanjutan.
“Dengan data spasial yang rinci, rencana mitigasi dapat disusun secara lebih tepat dan efektif,” katanya.
Firman mengakui kegiatan survey dan pemetaan tersebut bukan hal mudah mengingat kondisi lapangan di sejumlah lokasi masih belum sepenuhnya pulih.
Ia juga menekankan perlunya perencanaan kegiatan harian yang matang selama berada di lokasi bencana. Faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama, termasuk memperhatikan kondisi cuaca, medan, serta potensi bahaya susulan seperti longsor dan banjir lanjutan.
Firman berharap data hasil survei yang dikumpulkan tim BRIN dapat memberikan manfaat nyata bagi pemerintah dan pemangku kepentingan. Dalam jangka pendek, data tersebut diharapkan menjadi acuan penting dalam penyusunan rencana rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana.
Dalam jangka panjang, ia menegaskan bahwa data spasial hasil survei ini juga dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan mitigasi bencana yang lebih komprehensif.





