
Prof.Dr.Ahmad Subagyo
Warek III IKOPIN University dan Ketum ADEKMI
Bayangkan seorang pedagang kecil di pasar tradisional. Ia bangun sebelum subuh, menyiapkan dagangan, lalu di sela-sela hiruk pikuk, ia menyempatkan diri mampir ke kantor BRI di dekat pasar.
Di sanalah ia menabung hasil usahanya, sekaligus sesekali mengajukan kredit kecil untuk menambah stok barang. Selama puluhan tahun, cerita semacam ini tersebar di ribuan pasar dan desa di Indonesia. BRI bukan sekadar bank, tapi seperti “tetangga besar” yang membantu rakyat kecil berputar roda hidupnya.
Kini, pelan tapi pasti, suasananya berubah. BRI sedang “naik kelas” menjadi bank universal. Artinya, ia ingin melayani semua: dari warung kecil sampai konglomerat, dari rakyat jelata sampai rakyat jelita. Mikro dan UMKM masih diakui sebagai tulang punggung, tetapi tidak lagi menjadi satu-satunya panggung utama.
Di atas kertas, ini langkah bisnis yang wajar. Namun, di lapangan, bagi jutaan pelaku usaha mikro, perubahan ini terasa seperti kapal besar yang mulai mengurangi waktu singgahnya di pelabuhan kecil.
Di saat yang hampir bersamaan, ekonomi kita sedang mengalami gejolak halus tapi tajam. Industri padat karya—tekstil, garmen, sebagian elektronik—menghadapi tekanan dari otomasi, relokasi, dan persaingan global. Pabrik yang dulu menyerap ribuan tenaga kerja mulai mengurangi produksi, bahkan menutup pintunya.
Para buruh yang terbiasa menerima gaji bulanan kini harus memutar otak: ada yang membuka warung, berjualan online, menjadi tukang ojek, atau merintis usaha rumahan. Kelas menengah bawah yang dulu relatif aman, perlahan turun kelas dan bergabung dengan barisan pelaku usaha mikro baru.
Di sinilah paradoksnya: jumlah orang yang membutuhkan layanan keuangan mikro justru melonjak, sementara bank yang paling siap melayani segmen itu sedang mengalihkan sebagian fokusnya ke segmen lain. Pasar keuangan mikro menjadi seperti jalan kampung yang tiba-tiba dilintasi jalan tol: arus utama bergerak cepat ke tujuan baru, sementara di sisi kiri-kanan, warga masih berusaha menyeberang dengan hati-hati.
Pertanyaannya, jika BRI sebagai pemain lama mulai sibuk di “jalur tol” perbankan universal, siapa yang akan menjaga jalan kampung ini tetap hidup? Jawabannya sering mengarah kepada dua aktor: lembaga keuangan mikro (LKM) dan koperasi simpan pinjam (KSP). Mereka inilah yang selama ini hadir dekat dengan warga, berbasis komunitas, dan lebih lentur dalam berinteraksi dengan nasabah kecil.
Secara konsep, LKM dan KSP tampak ideal. Mereka akrab dengan bahasa lokal, tahu persis siapa yang benar-benar berusaha dan siapa yang hanya “mencoba-coba”, dan seringkali pengurusnya berasal dari lingkungan yang sama dengan anggotanya.
Di banyak desa, rapat koperasi bukan hanya urusan angka, tetapi juga ruang sosial: tempat cerita, curhat, dan musyawarah bercampur dengan laporan keuangan. Kedekatan sosial ini adalah modal besar yang tidak dimiliki bank besar.
Tetapi realitasnya tidak sesederhana itu. Banyak LKM dan KSP yang masih dibatasi oleh modal tipis. Mereka mengandalkan simpanan anggota dan sedikit tambahan dari lembaga lain. Skala mereka lokal, sehingga ketika ada beberapa kredit macet besar, neraca langsung goyah.
Di saat yang sama, tuntutan zaman memaksa mereka untuk berbenah: nasabah kini terbiasa dengan aplikasi, transfer cepat, dan layanan digital; sementara beberapa koperasi masih bergulat dengan pembukuan manual dan arsip kertas.
Di sinilah letak tantangan sekaligus peluangnya. Ketika BRI menata ulang peta bisnis, segmen-segmen tertentu di mikro menjadi lebih “sunyi” dari perhatian bank besar:
- Usaha ultra mikro dengan kebutuhan pinjaman sangat kecil.
- Pelaku usaha baru pasca-PHK yang belum punya rekam jejak kredit formal.
- Komunitas-komunitas lokal—kelompok tani, jamaah, paguyuban—yang lebih nyaman berinteraksi dalam nuansa kekeluargaan.
Segmen inilah yang sebenarnya paling cocok diisi LKM dan KSP. Mereka bisa datang bukan sebagai “bank kecil”, tetapi sebagai mitra komunitas yang peka terhadap konteks sosial. Namun, untuk benar-benar menjadi pelabuhan baru bagi rakyat kecil, ada beberapa langkah besar yang perlu diambil.
Pertama, mereka perlu berani berbenah dalam tata kelola. Kedekatan sosial tidak boleh menjadi alasan untuk longgar terhadap risiko. Transparansi, pengawasan internal, pemisahan yang jelas antara keuangan lembaga dan keuangan pengurus, semuanya harus diperkuat. Koperasi dan LKM yang ingin naik kelas tidak cukup hanya “amanah”, tetapi juga harus profesional.
Kedua, konsolidasi menjadi kata kunci. Di banyak daerah, ada banyak koperasi dan LKM kecil yang bekerja sendiri-sendiri, masing-masing dengan sumber daya terbatas. Jika mereka mampu bergabung dalam jaringan, federasi, atau bermitra dengan lembaga penyangga yang lebih besar, akses modal dan kapasitas manajerial bisa meningkat. Dalam bahasa sederhana, mereka perlu berhenti merasa sendirian, dan mulai melihat dirinya sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas.
Ketiga, mereka perlu menyentuh dunia digital, tanpa kehilangan sentuhan manusiawinya. Ini bukan berarti semua harus langsung punya super-app. Cukup mulai dari sistem pencatatan yang rapi, kanal pembayaran non-tunai, dan cara sederhana untuk memantau cicilan. Yang penting, nasabah merasa dilayani cepat dan jelas, tetapi tetap bisa ngobrol, berkonsultasi, dan didampingi.
Dan yang tak kalah penting, LKM dan KSP punya peluang untuk menawarkan sesuatu yang jarang bisa diberikan bank besar: pendampingan usaha yang serius. Mereka bisa menggabungkan kredit dengan pelatihan, mentoring, dan jaringan pemasaran. Bagi pedagang kecil atau pelaku usaha rumahan, nasihat sederhana tentang cara mengelola stok, menghitung harga pokok, atau memanfaatkan media sosial, sering kali sama berharganya dengan suntikan modal itu sendiri.
Pada akhirnya, transformasi BRI menjadi bank universal tidak harus dibaca sebagai ancaman. Ia bisa juga dilihat sebagai “panggilan bangun” bagi ekosistem keuangan mikro. Selama ini, kita cenderung nyaman dengan satu nama besar yang mengurus hampir semua. Sekarang, ketika kapal besar itu membentangkan layar ke lautan yang lebih luas, inilah saatnya perahu-perahu kecil—LKM, KSP, BPR, fintech yang sehat—berkumpul, merapikan layar, dan berlayar bersama melayani rakyat kecil.
Rakyat kecil tidak boleh dibiarkan sendirian di tengah perubahan besar ini. Mereka butuh pelabuhan baru yang ramah, adil, dan dapat dipercaya. Jika LKM dan koperasi berani berbenah dan berinovasi, mereka bukan hanya pengisi kekosongan, tetapi bisa menjadi tulang punggung baru kedaulatan keuangan rakyat di era ketika bank-bank besar sibuk berlomba di panggung global.








