
PeluangNews, Jakarta – Keputusan Bank Rakyat Indonesia untuk melakukan rebranding menjadi bank universal membuka ruang kosong di segmen pembiayaan UMKM yang bisa diisi lembaga jasa keuangan lain setelah bank terbesar di Indonesia itu melebarkan fokus bisnisnya.
Di sisi lain, BRI diharapkan tidak meninggalkan nasabah mikro yang selama ini menjadi segmen utamanya menyusul strategi rebranding yang dilakukan Perseroan tersebut menjadi bank universal.
Manajemen BRI memang telah menegaskan bahwa UMKM masih tetap menjadi fokus setelah Perseroan resmi mengumumkan rebranding, dimana porsi segmen UMKM sebesar 40%-50% dari portofolio ke depan, masih sangat besar dalam skala industri perbankan.
“Pada 2024 BRI menyalurkan kredit UMKM Rp1.106 triliun dari total Rp1.353 triliun, melayani sekitar 50 juta nasabah UMKM dan 36 juta ultra mikro. Jadi secara nominal, BRI masih akan menjadi pemain raksasa di mikro,” ujar pemerhati microfinance dan koperasi dari Institut Koperasi Indonesia Ahmad Subagyo kepada Peluang, Kamis (29 Januari).
Namun di sisi lain, Subagyo melihat bahwa secara relatif, segmen mikro tidak lagi menjadi satu-satunya prioritas bagi BRI setelah menjadi bank universal. Di lapangan, ini bisa berarti segmentasi akan lebih ketat. Ini artinya nasabah mikro dengan risiko tinggi atau skala sangat kecil bisa tidak lagi menjadi prioritas utama.
Bersamaan dengan perayaan HUT-nya yang ke 130 pada Desember lalu, BRI mengumumkan langkah untuk bertransformasi menjadi bank universal. Manajemen bank tersebut menegaskan transformasi tersebut akan dilakukan tanpa meninggalkan bisnis intinya yaitu di segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ekonomi rakyat.
“Fokus utama BRI tetap pada micro credit, pada perbankan mikro. Tapi, kita mengembangkan konsep BRI menjadi universal bank,” ujar, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Hery Gunardi saat kehiatan launching BRI Corporate Rebranding tersebut.
Dia mengatakan BRI tidak mungkin keluar dari fokus utamanya, yaitu perbankan mikro. Tetapi, BRI akan dikembangkan menjadi universal bank yang menyatukan ekonomi desa dan ekonomi kota dalam satu ekosistem, lanjutnya.
Meski begitu, Subagyo mengingatkan salah satu konsekuensi dari transformasi tersebut adalah BRI akan semakin agresif masuk ke segmen urban, konsumer menengah–atas, dan bisnis komersial, meski tanpa melepas UMKM sebagai tulang punggung. Strategi menang di desa, agresif di kota menunjukkan bahwa BRI tidak ingin hanya identik dengan pedesaan, tetapi juga kuat di kota-kota besar.
Dari sisi ekosistem, dengan menjadi bank universal, BRI akan mengembangkan konsep ekosistem yang menghubungkan korporasi, komersial, konsumer, hingga mikro dalam satu supply chain, dan mengaitkannya dengan program pemerintah seperti penguatan koperasi desa dan program sosial lainnya. Ini artinya, pembiayaan mikro akan cenderung diarahkan agar terhubung dengan rantai pasok yang lebih besar, bukan berdiri sendiri.
Ketiga, dari sisi brand dan digital, perubahan logo, penguatan kanal digital, dan penajaman brand “universal bank” akan tercermin di produk, layanan, dan cara BRI berkomunikasi dengan nasabah, khususnya generasi muda dan kelas menengah. Implementasi kebijakan ini tidak berarti mikro dihapus, tetapi mikro akan “berbagi panggung” dengan segmen lain yang secara bisnis lebih beragam.
Subagyo meyakini ke depan BRI akan tetap pemain dominan di segmen UMKM, tetapi tidak lagi sendirian. “Ini positif dari sisi diversifikasi, tetapi juga menuntut penguatan regulasi dan perlindungan konsumen,” ujarnya.
Yang tak kalah penting, menurut dia benturan antara logika komersial dan misi inklusi akan makin terasa. Bank besar seperti BRI akan semakin terdorong mengejar profitabilitas dan efisiensi, sementara kebutuhan layanan mikro seringkali menuntut pendekatan yang padat tenaga dan kurang menarik secara komersial.
Kalau kebijakan dan dukungan ekosistem tepat—termasuk penguatan kapasitas LKM dan KSP, serta kemitraan sehat dengan bank dan fintech—maka pasar keuangan mikro ke depan bukan hanya bertahan, tetapi bisa menjadi pilar penting stabilitas sosial-ekonomi Indonesia, meskipun BRI sudah naik kelas ke panggung universal bank.
Dalam konteks pasar, ruang kosong relatif akan muncul di segmen mikro tradisional—pelaku usaha ultra mikro, pedagang informal urban, dan usaha rumah tangga baru pasca-PHK. Inilah yang berpotensi tidak lagi digarap seintensif dulu oleh BRI, dan di sinilah peran lembaga keuangan mikro lain menjadi krusial.
Meski begitu, menurut Subagyo tidak ada satu lembaga yang bisa “menggantikan” BRI secara penuh mengingat skala BRI terlalu besar, kendati beberapa kelompok lembaga seperti LKM dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP), BPR dan BPRS, hingga Fintech P2P Lending dan Platform Digital tersebut bisa mengisi fragmen-fragmen pasar.








