hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

BPKN Prediksi Ekonomi Indonesia Capai 4,1 Persen pada 2022

JAKARTA—Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN-RI) menyampaikan pertumbuhan ekonomi pada 2022 mencapai 4 hingga 4,1 persen.  Capaian ini lebih baik dengan angka 2021 sebesar 3,5 hingga 3,7 persen.

Ketua BPKN-RI Rizal E Halim mengatakan angka tersebut berkebalikan dengan prediksi ekonomi global, karena ekonomi negara maju tertekan seperti Amerika, Eropa, Jepang, dan Tiongkok.

“Menurunnya kasus covid-19 dan pemulihan ekonomi yang berjalan berpotensi menjadi momentum akselerasi kebangkitan ekonomi Indonesia,” ujar Rizal dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/12/21).
 
Rizal  memproyeksikan ekonomi global tumbuh sebesar empat persen pada 2022. Angka ini lebih rendah dengan proyeksi sebelumnya pada 2021 yang tumbuh sebesar 5,1-5,6 persen.
 
Kondisi itu didasarkan dinamika dalam penanganan Covid 19 dan dampaknya yang begitu luas, juga tantangan struktural yang masih harus diatasi di dalam perekonomian saat ini.

Strategi ke depan dalam kebijakan fiskal harus bersifat adaptif, antisipatif, responsif, namun pragmatis, dan fokus pada tercapainya tujuan jangka panjang.
 
Sinyal ekonomi Indonesi bergerak positif terlihat dari keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi terus menguat sejalan dengan membaiknya mobilitas masyarakat.

Indikasinya berdasarkan survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) pada Oktober 2021, tercatat 113,4, naik dari 95,5 pada September 2021.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2021 meningkat sebesar USD145,9 miliar.

Cadangan devisa sebesar itu dinilai sapat mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Rizal mengungkapkan data pengangguran di Indonesia ada sebanyak 9,1 juta orang per Agustus 2021. Jumlah itu turun sekitar 670 ribu orang dari posisi per Agustus 2020 yang mencapai 9,77 juta orang. Sedangkan pada November 2021 terjadi peningkatan inflasi sebesar 0,37 persen secara bulanan.
 
Secara tahunan, tingkat inflasi pada periode tersebut tercatat mencapai 1,75 persen (yoy) dan merupakan inflasi tertinggi sepanjang 2021.

Hal ini relatif stabil atau tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi, boleh dikatakan pengendalian inflasi tahun ini sudah dikelola dengan baik,” tuturnya.
 
BPKN-RI mencatat 7.021 pengaduan sejak 2017 hingga 9 Desember 2021 yang didominasi pengaduan jasa keuangan, e-commerce, dan perumahan. Sedangkan sejak 2005-2021 BPKN-RI mengirimkan 210 rekomendasi kepada kementerian/lembaga, namun hanya 48 kementerian/Lembaga yang merespons rekomendasi BPKN-RI.
 
“Banyaknya pengaduan ini, menjadi catatan karena BPKN-RI bukan Lembaga yang memiliki kewenangan menangani kasus, tetapi melihat tren pengaduan yang selalu meningkat menjadi ekspektasi masyarakat sebagai lembaga yang dipercaya untuk mengadukan permasalahan yang dialami konsumen,” pungkasnya.
 

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate