BANDUNG—Dalam Bahasa Sunda kata “Kamonesan” berarti keahlian yang indah dan unik. Kata itu diadopsi oleh Ely Herlina dan suaminya menghadirkan produk wirausaha yang tidak saja bermanfaat bagi ekonomi keluarga, tetapi juga menampilkan ciri jati diri, kreativitas, sense of art yang berkaitan dengan kekayaan Indonesia, khususnya dari Bandung.
Pada 2013 pasutri mendirikan bisnis cokelat dengan brand Mones dengan modal kira-kira Rp5 juta. Ely meyampaikan memilih cokelat, karena pasangan ini dan anak-anaknya menyukai panganan cokelat.
“Seringkali anak-anak saya beli cokelat waktu di sekolah, kerap kualitas bahan bakunya, kemasan dan mungkin proses produksinya kurang memenuhi standar higienis. Kadang setelah mengkonsumsi cokelat tersebut sering terkena batuk, radang tenggorokan dan lain dan sebagainya, “ ungkap perempuan kelahiran 1974 ini kepada Peluang, Jumat (19/3/21).
Mantan karyawati bank itu terlebih dahulu melakukan riset dan kemudian membuat kreasi. Anak-anaknya mengemari cokelat itu dan juga teman-temannya, akhirnya mereka menjalankan bisnis cokelat ini.
Bisnis ini kemudian berkembang, dari dua jenis cokelat, yaitu praline dan cokelat karakter berkembang dengan tiga jenis cokelat dengan hampir 16 varian rasa. Produk Mones dijual dengan kisaran harga dari Rp17.500 hingga Rp65.000.
Harga tersebut tidak temasuk kalau ada pemesanan khusus (custom). Konsumen dapat memperoleh produk cokelat Mones secara langsung ke store di Rumah Mones di kawasan Sarijadi, Sukasari, Bandung, atau melalui banyak eMarketplace terkemuka seperti Tokopedia, Blibli, Shopee, Bukalapak dan sebagainya.
Produk Mones dapat diperoleh pada pasar swalayan moden di Jakarta sepert Alun-Alun Indonesia (GI, Jakarta), Kem Chicks, Jaringan Rumah Buah, Outlet dan Store milik PT. Sarinah (Pesero) dan lain-lainnya.
Wilayah pemasaran kami mencapai negara tetangga seperti Malaysia, Philipina dan lain-lainnya, serta terakhir pada 2019 lalu, berkesempatan menjajakan cokelat kami di Istanbul (Turki) pada gelaran acara OIC Halal 2019 Expo di sana,” ungkap alumni Politeknik Bandung (ITB) ini.
Saat ini ini Mones memiliki berbagai legalitas/perizinan usaha seperti, PIRT, Sertifikat Halal, Sertifikat Barcode Produk (GS1 Indonesia) , Sertifikasi SNI (On Process) dan lainnya. Kapasitas Produksi per bulan (per 2019) rata-rata sebanyak: 25 kilogram, diukur dari pemakaian bahan baku utama cokelat. Sementara omzet rata-rata per bulannya di angka Rp20 juta,sebelum pandemi Covid-19.
Sayangnya, pandemi berdampak berat pada usaha. Saluran penjualan, terutama di Jakarta benar-benar terpukul sebagai akibat dari pemberlakuan PSBB dan tidak beroperasinya mereka. Ini mungkin juga karena segmentasi pasar Mones yang lebih membidik ke middle-up market. Sementara hampir semua pasar modern di mal dan toko di bandara tidak beroperasi.
Pada 2020 lalu, mereka kami lebih banyak mencoba mengandalkan penjualan secara daring, juga mencoba mensiasti dengan diversifikasi produk, yang mana dibutuhkan pada saat situasi yang diakibatkan Pandemi Covid-19, misalnya pembuatan parcel / hampers / bingkisan cokelat untuk Hari Raya dan lain-lainya. Hal ini cukup banyak membantu.
Pada 2020 lalu usahanya, yang tadinya usaha perseorangan bertransisi menjadi Badan Usaha dengan nama “CV Mones Karya Javalejanum”, dengan target ke depan minimal dapat banyak berbicara dalam pasar cokelat nasional.
“Target kami dalam 3 tahun ke depan adalah produk kami sudah dapat dipasarkan serta di peroleh pada minimal 10 kota besar di Indonesia dengan melakukan peningkatan kemampuan produksi dan penjualan. Kami juga berharap menunjukan cokelat asli Indonesia tidak kalah dengan brand luar negeri,” tutup Ely (Van).








