SEMARANG—Inspirasi untuk mengembangkan wirausaha terkadang muncul di tengah jalan. Keberanian melakukan inovasi dan terus mencoba adalah salah satu cara untuk menjadi entrepreneur.
R. Ngt Bintari Saptanti dan suaminya Adi Setiawan adalah di antara mereka yang berani melakukan terobosan. Pasangan yang tinggal di kawasan Mijen, Semarang, Jawa Tengah ini mulanya hanya ingin mengabulkan keinginan anak sulungnya, membuka usaha rumah makan.
Pada 2019 mereka mulai usaha rumah makan bakmi gadhog, kuliner khas Yogyakarta dengan nama brand Bakmi Sundoro. Nama itu digunakan dari nama Sri Sultan Hamangkubuwono II, yaitu Raden Sundoro, di mana Bintari Saptanti sendiri adalah keturunan keenam.
“Mulanya kami menggunakan mi dibeli dari orang lain atau mi kulakan, bukan buatan sendiri. Dari situ suami saya berkata mengapa nggak memakai mi Mama sendiri,” ungkap perempuan yang karib disapa Tanti ini melalui surat elektronik, Sabtu (28/8/21).
Tanti memang hobi memasak dan pandai membuat mi. Hal itu dilakukan ibu dari lima anak ini karena ingin keluarganya tidak mengonsumsi mi instan. Ternyata banyak yang suka, hingga akhirnya Tanti memilih menggunakan mi buatannya untuk rumah makannya.
Kemudian pelangganya bertanya bagaimana kalau mau dibawa pulang? Bagaimana kalau mau dipakai dan dibawa ke luar kota? Bahkan ada satu pelanggan berkata: “Boleh nggak beli bakmi bersama bumbunya?” Dari situ Tanti mendapatkan ide melakukan inovasi.
“Akhirnya bakmi dan bumbu ini kami kemas per tiga porsi. Alhamdullilah responnya bagus. Suami saya kemudian mengusulkan agar saya mengurus izin di BPOM dan saya lakukan. Kami juga mendapatkan sertifikat halal dan SNI,” papar perempuan kelahiran Semarang, 29 Oktober 1978 ini.
Usahanya kemudian berkembang dengan membuka delapan cabang berupa gerobak di sejumlah gerai minimarket. Targetnya waktu itu, pada 2020 bisa mendirikan 80 hingga 100 cabang.
Sayangnya, pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 membuatnya menutup semua cabang. Hanya 4 dari 16 karyawannya yang bertahan, karena mereka semua dari luar kota dan tinggal di mess yang disediakan pasutri ini.
Akhirnya bakmi kemasan kami jual dengan menggunakan instagram menggunakan influencer. Hasilnya justru mendapat respon luar biasa. Dia pun menggunakan salah satu perusahaan marketplace yang memberikan masukan bagaimana berjualan secara daring, karena produknya laku.
Singkatnya, nasehat itu diikuti. Penjualan Bakmi Sundoro melesat. Pembelinya tidak saja datang dari seluruh Indonesia, tetapi juga dari beberapa negara seperti Belanda, Australia dan Jepang. Bakmi kemasan dijual dalam bentuk kemasan frozen hinggakemudian akhrinya dengan kemasan kering. Mi dengan kemasan kering tidak menggunakan pengawet dan tidak digoreng, hingga tanpa gula. Kedua kemasan ini masing-masing dua varian, yaitu bakmi gadhog hingga bakmi goreng.
Dari empat karyawan, Bakmi Sundro kemudian mempunyai 30 karyawan. Tanti menyampaikan, pihaknya menggunakan cara berkelanjutan dengan tiga pilar, yaitu bahan baku lokal, tidak ada limbah atau zero waste. Bakmi Sundoro mempekerjakan karyawan karyawan sekitar perumahan hingga memberdayakan ekonomi lokal.
“Kami fokus, menyetuh kalangan seluruh Indonesia, ditambah orang Jawa seluruh Indonesia dan serta orang-orang yang mempunyai kenangan romantis orang pada Yogyakarta. Kini Kami sudah ada di seluruh pasar swalayan seluruh Indonesia,” tutur Tanti lagi.
Bakmi Sundoro sendiri sejak April (ketika meluncurkan bakmi kemasan kering) hingga Agustus 2021 mampu meraih omzet antara Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulan, dengan total Rp1,6 miliar. Terobosan Tanti menjadi bakminya dalam kemasan dengan izin BPOM, SNI dan Halal dan satu-satunya di Indonesia, serta resep sendiri menjadi kunci keberhasilannya.
“Tentunya juga menafaatkan pemasaran digital dengan jitu dan menjadikan Yogyakarta sebgai brand awarness kami,” tambahnya.
Itu sebabnya ke depan Tanti merencanakan membidik jaringan ritel di Indonesia, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dia bersyukur kalau produknya dapat memenuhi 3.000 dari 5.000 gerai toko ritel yang ada di Indonesia.
Tanti juga bergabung menjadi binaan Bank Indonesia sejak Mei yang membuat produknya diikutsertakan dalam pameran Bangga Buatan Indonesia. Dia menggunakan kesempatan itu untuk melakukan survei pelanggan untuk mendapatkan masukan bagi produknya.
Tanti juga berjanji akan membantu siapa pun yang terdampak pandemi menjadi mitranya. Pihaknya siap membantu mengenalkan dunia penjualan secara daring dan pemasaran kepada mereka yang mau menjadi mitra.
“Kami tidak mengenakan franchise fee. Kami punya impian kalau ada Kentucky, McDonal, mengapa tidak ada Bakmi Yogya. Kami ingin Bami Yogya jadi kuliner brended global. Kalau dulu Bakmi Yogya mengantri, kami buktikan kini Bakmi Yogya bisa dikemas, dinikmati anak muda dan semua kalangan usia,” tutupnya (Irvan).





