JAKARTA—Masyarakat Betawi punya kuliner minuman tradisional yang disebut bir pletok. Minuman ini yang telah beruru berabad-abad ini terbuat dari berbagai rempah, yang sebetulnya punya berbagai khasiat.
Pelaku usaha bir pletok harus berjuang dengan misi melestarikan budaya, sekaligus untuk bertahan menghadapi minuman kekinian yang terus bermunculan di Jakarta.
Inayah Nurhayati, seorang ibu rumah tangga dari kawasan Kedoya Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat melakukan inovasi tidak saja menawarkan bir pletok dalam bentuk minuman langsung, tetapi juga dalam bentuk serbuk, kantong celup (seperti teh celup), hingga dalam bentuk sirup.
“Saya mulai terjun ke dunia wirausaha ini ketika mengikuti pelatihan bir pletok yang diadakan oleh Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Energi Jakarta Barat pada 2019 dengan semangat memajukan kuliner Betawi,” ucap Inayah ketika dihubungi Peluang lewat whatsapp, Senin (22/11/21)
Perempuan kelahiran 1974 ini mendirikan usaha bir pletok dengan brand Bintang Kedoya pada Januari 2020 dengan modal awal Rp2 juta. Pada awalnya Inayah hanya minuman kemasan cair 250 mililiter baru melakukan inovasi ke berbagai varian.
Mantan karyawati sebuah bank swasta ini menjual bir pletok minuman langsung Rp100 ribu per enam botol, kemasan bubuk Rp25 ribu untuk 60 gram dan Rp85 ribu untuk 250 gram, kemasan celup Rp50.000 dan sirup dibanderol Rp120 ribu untuk 600 ml dan Rp150 ribu untuk satu liter.
“Ke depan Saya merencanakan mengenalkan kuliner khas Betawi ini ke sluruh masyarakat Indonesia dan mancanegara,” tutup Inayah yang mengaku produksi dan omzetnya sedang bangkit di masa pandemi (Irvan).





