“Bidang usaha pengadaan barang dan jasa perbaikan kapal merupakan bisnis inti Koperasi Tankers yang menjadi penopang utama pendapatan. Ke depan, inovasi dan pengembangan kerja sama dengan pabrikan suku cadang perkapalan berskala dunia akan terus dilakukan”.
Jauh sebelum pemerintah mengimbau agar koperasi lebih banyak bergerak di sektor produksi, Koperasi Tankers sudah memulainya. Sejak 15 tahun silam, Koperasi Karyawan PT Pertamina International Shipping ini memperluas usahanya di bidang pengadaan barang dan jasa perbaikan kapal yang dikelola anak usahanya.
Ketua Koperasi Tankers Nursatyo Argo mengatakan, perluasan usaha di sektor produktif merupakan salah satu upaya untuk menggenjot kesejahteraan anggota. Sebab, jika hanya mengandalkan usaha simpan pinjam dan toko saja seperti saat pertama berdiri, sulit untuk tumbuh pesat. “Sejak 2006, kami mengembangkan usaha di bidang pengadaan barang dan jasa perbaikan kapal yang terus berkembang hingga kini,” ungkap Argo di sela RAT ke 25 Tahun Buku 2020 Koperasi Tankers di Jakarta, akhir Mei lalu.
Acara RAT yang kepanitiaannya diketuai Capt. Roni Widagdo ini dihadiri oleh Pengurus Koperasi Tankers antara lain Rahmat Wiryawan Murti selaku Wakil Ketua Koperasi Tankers, Pengawas Koperasi Tankers, CEO PT Pertamina International Shipping Erry Widiastono, perwakilan Sudin Koperasi & UMKM Jakarta Utara Lilik Lastiyono dan anggota Koperasi Tankers. Pelaksanaan acara telah mematuhi protokol Kesehatan sebagai dukungan untuk mencegah penularan virus Covid-19.
Pilihan Tankers untuk memperluas usaha yang sesuai dengan kompetensi sebagian besar anggota adalah tepat. Terbukti kini usaha pengadaan barang dan jasa perbaikan kapal menjadi bisnis inti dan menjadi motor utama mendulang pendapatan.
Koperasi Tankers kini menjadi pemimpin pasar di industri perkapalan. Sehingga wajar jika banyak pabrikan suku cadang kapal skala global mempercayakan koperasi dengan anggota sebanyak 761 orang pada akhir 2020 ini sebagai distributor utama penjualan suku cadang perkapalan. Selain itu, Koperasi Tankers juga menyediakan tenaga kerja alih daya yang mumpuni di bidang penunjang jasa maritim seperti perbaikan tugboat, tongkang, penyediaan tenaga penyelam dan lain sebagainya.
Dengan pengalaman berkecimpung di sektor riil produktif yang menguntungkan, kata Argo, ia mendukung arahan Pemerintah agar koperasi terjun di sektor riil sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Ini agar koperasi bisa berbicara lebih banyak dan memberi dampak berganda bagi perekonomian. Dengan meningkatnya skala usaha, diharapkan koperasi tidak lagi menjadi entitas usaha kelas dua di negeri ini.
Saat ini Koperasi Tankers terus mengembangkan usaha dengan berbagai pihak untuk membuka pasar baru maupun menambah bidang usahanya, sebagai upaya untuk menggenjot pendapatan. Usaha dengan pihak principal yang sudah berjalan, tetap dipertahankan dan sejauh ini masih berjalan dengan lancar. Sedangkan usaha baru seperti bekerja sama dengan perusahaan Danfoss sedang dirintis dan mulai berjalan kegiatan pemasarannya.
Ke depan, Koperasi dengan aset sebesar Rp76,19 miliar di akhir 2020 ini akan tetap bergerak di sektor riil dengan bisnis inti di industri perkapalan. Meski demikian, Tankers tidak akan meninggalkan usaha Simpan Pinjam yang masih menjadi salah satu kebutuhan anggota.
Argo menambahkan, untuk menjadikan kelembagaan dan usaha koperasi lebih kuat, dibutuhkan payung hukum dan keberpihakan yang kuat dari pemerintah, perusahaan maupun pihak perbankan. Selain itu, pembinaan kepada Koperasi juga harus lebih aktif dijalankan oleh Pemerintah, mengingat masih banyak Koperasi yang gulung tikar karena lemahnya manajemen pengelolaannya maupun penyimpangan yang dilakukan oleh pengelolanya. Hal ini menyebabkan kepercayaan masyarakat maupun pengusaha kepada Koperasi menjadi menurun. “Butuh kerja keras dan upaya bersama dari semua insan Koperasi untuk terus menjaga dan mempertahankan jargon “Koperasi sebagai Soko Guru Ekonomi”,” ungkap Argo.
Dalam acara RAT tersebut, Argo juga menyampaikan kinerja Koperasi Tankers sepanjang 2020. Dampak pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap salah satu koperasi besar di Indonesia ini. Hal itu tercermin dari penurunan aset, omzet dan keuntungan. Dibanding tahun sebelumnya, total aset menurun sebesar 15% dan omzet menurun 22% menjadi Rp91,40 miliar. “Pandemi Covid-19 menyebabkan bisnis berjalan lebih lambat dan berdampak terhadap kinerja kami. Namun demikian, secara konsolidasi, Koperasi Tankers masih tetap membukukan keuntungan,” ungkap Argo.
2020 merupakan masa yang cukup sulit bagi hampir seluruh sektor usaha. Pandemi Covid-19 memberi tekanan pada perekonomian nasional yang mengalami kontraksi sebesar 2,07%. Akibatnya, banyak sektor usaha yang mengalami penurunan kinerja finansial maupun operasional, tidak terkecuali di gerakan koperasi. Namun demikian, sejalan dengan respons cepat Pemerintah yang didukung dunia usaha dan masyarakat melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), ekonomi berangsur pulih.
Seiring dengan prospek pemulihan ekonomi, Argo yakin usaha Koperasi Tankers akan semakin berkembang pada masa mendatang. Apalagi Tankers memiliki reputasi, kompetensi SDM, dan kualitas layanan yang sudah teruji. Inovasi dan perluasan kerja sama dengan pabrikan suku cadang perkapalan akan terus dilakukan untuk mengembangkan skala usaha koperasi. “Kami optimistis kinerja Tankers ke depan akan lebih baik dari tahun sebelumnya,” pungkas Argo. (Kur)








