hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Berdiri di Era Kolonial, KSP Balota Kini Punya Aset Rp1,9 Triliun

Berdiri di Era Kolonial, KSP Balota Kini Punya Aset Rp1,9 Triliun
Ketua Pengurus KSP Balota Drs.Dedi Bongga/dok.Peluangnews.id

PeluangNews, Tana Toraja – Lahir jauh sebelum Republik Indonesia merdeka, KSP Balota menjadi salah satu koperasi yang membuktikan bahwa gerakan ekonomi rakyat mampu bertahan melampaui zaman.

Didirikan pada 1 Mei 1941, di tengah masa penjajahan kolonial Belanda, koperasi ini berawal dari kegelisahan sembilan pemuda Toraja terhadap praktik rentenir yang mencekik masyarakat. Saat itu, bunga pinjaman bisa mencapai 20 persen per pekan—angka yang membuat rakyat kecil semakin terjerat.

Ketua Pengurus KSP Balota, Drs. Dedi Bongga, menuturkan bahwa para pendiri menyepakati pembentukan lembaga yang bertujuan melawan praktik tersebut melalui semangat gotong royong.

“Masing-masing dari sembilan pendiri menyetor 25 Florin. Nilainya saat itu setara dengan dua ekor kerbau remaja. Kalau dikonversi sekarang, kurang lebih sekitar Rp50 juta per orang,” ujar Dedi kepada peluangnews.id, di kantornya, Toraja Utara, Kamis (26/2/2026).

Langkah itu bukan sekadar urusan modal, melainkan simbol keberanian dan komitmen sosial. Di masa penjajahan, mendirikan organisasi ekonomi rakyat bukan perkara mudah. Bahkan pada masa pendudukan Jepang, aktivitas koperasi sempat dibekukan karena dicurigai bermuatan politik. Namun para pengurus tetap mengelola secara diam-diam, menjaga keberlangsungan organisasi hingga situasi memungkinkan kembali terbuka.

Makna Nama Balota

Nama Balota sendiri memiliki makna filosofis. Awalnya koperasi ini bernama Bank Putra Toraja pada era 1960-an. Seiring penertiban gerakan koperasi secara nasional, namanya kemudian berubah menjadi Koperasi Balota.

Menurut Dedi, kata “Balota” berasal dari dua unsur, yakni “balo” dan “ta”. “Ta” diambil dari huruf awal dan akhir kata Toraja, yaitu T dan A. Sementara “balo” dalam ungkapan budaya Toraja merujuk pada sesuatu yang diyakini membawa berkah atau kebaikan bagi kehidupan, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.

“Balota itu bisa dimaknai sebagai ‘berkah kita’. Artinya koperasi ini harus membawa manfaat bagi anggota dan masyarakat,” katanya.

Nilai perjuangan sembilan pendiri juga diabadikan dalam struktur pengambilan keputusan tertinggi. Peserta Rapat Anggota Tahunan (RAT) dibatasi maksimal 90 orang—simbol kelipatan sembilan sebagai penghormatan terhadap para perintis.

Melampaui Target

Perjalanan panjang itu kini berbuah capaian signifikan. Hingga 31 Desember 2025, jumlah anggota KSP Balota tercatat mencapai 63 ribu orang. Asetnya menembus Rp1,9 triliun dan tersebar di tujuh provinsi dengan 56 cabang.

Capaian tersebut bahkan melampaui target Rencana Strategis (Renstra) yang semula ditetapkan hingga 2028.

Bagi Dedi, pertumbuhan itu bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari kepercayaan anggota yang terus terjaga.

“Yang mengembangkan koperasi ini bukan orang lain, tetapi anggotanya sendiri. Rasa memiliki itu yang kami rawat dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Dari sembilan pemuda dengan 25 Florin di era kolonial, menjadi puluhan ribu anggota dengan aset triliunan rupiah—KSP Balota menunjukkan bahwa koperasi, ketika dibangun di atas nilai, keberanian, dan konsistensi, mampu melampaui sejarah dan tetap relevan hingga hari ini.

Dalam menjaga kesinambungan organisasi, KSP Balota akan melaksanakan Rapat Anggota Tahunan (RAT) tahun buku 2025 pada 28 Februari 2026 sebagai bukti bahwa koperas rakyat mampu bertahan dan menjalani aturan yang ada. (Aji)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate