dokter keuangan
dokter keuangan
octa vaganza

Berdamai dengan Hunian Vertikal

Wajah kota hari ini dan masa depan adalah konstelasi gundukan beton. Entah itu perkantoran, pertokoan, ataupun hunian, pola pertumbuhannya sangat jelas: berorientasi vertikal. Tak bisa lain. Siap tak siap, warga harus beradaptasi dengan millieu baru ini.

BUAT penduduk kota-kota besar, terlebih warga megalopolitan Jakarta, hunian rumah tapak (landed house) makin tak realistis. Soalnya, manusia tumbuh melaju dengan kelipatan konstan, lahan tak bertambah satu senti persegi pun. Maka, hunian vertikal menjadi keniscayaan tak terelakkan. Lihat saja kota-kota besar dunia dipadati  hutan beton nan menjulang. Nyaris tak tersisa untuk paru-parulingkungan yang disebut ruang terbuka hijau (RTH).

Kepadatan dan kekumuhan di ibu kota Jakarta diperparah faktor urbanisasi. Jakarta ibarat lentera bagi laron. Mereka berharap, dengan ngungsi ke kota besar, kualitas kehidupan bakal jadi lebih baik. Pada saat yang sama, Jakarta juga memikul persoalan besar berupa minimnya ketersediaan lahan untuk tempat tinggal. Tak pelak, populasi di beberapa kawasan DKI Jakarta ekstrapadat.

Maka, mau tak mau, suka tak suka, perumahan vertikal merupakan jawaban tunggal. Tak ada alternatif lain. Masyarakat di kota-kota, seperti disebut Dirjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin,harus dibudayakan tinggal di perumahan vertikal. Untuk itu, sebagai langkah tanggap darurat, pihak Kementerian telah menyediakan 20.000 unit rumah vertikal untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR),

Cikal bakal ke arah kultur hunian baru itu sebenarnya sudah ada. Rumah susun sewa/rusunawa Waduk Pluit/Muara Baru, Penjaringan, Kapuk Muara, Marunda, Sukapura, Tambora, Flamboyan, Karang Anyar, Jati Rawasari, Cipinang Besar Utara, Pondok Bambu, Cipinang Muara, Pulo Jahe, Tipar Cakung, Pinus Elok, Cakung Barat, Pulogebang, Jatinegara Barat, dengan beberapa pendahulu: Rusun Klender, Petamburan, Kemayoran, Tenabang, Kebon Sirih.

Sebenarnya rusun itu apartemen juga, nyatanya masyarakat bisa. “Ini budaya yang harus dibesarkan,” kata Syarif Burhanuddin.Harus ada switch budaya dari tinggal di landed ke huian vertikal. Di negara maju, seperti Singapura, pada awalnya penduduk dipaksa tinggal di rumah vertikal. Lama kelamaan, manusia toh selalu mampu beradaptasi dengan tantangan-tantangan baru dan nyatanya hampir tidak ada masalah.

Perencana tata kota asal Belanda, Winy Maas, menyebut, salah cara yang dapat ditempuh pemerintah adalah dengan membangun vertical village atau kampung susun. Ini bukan sekadar vertical village biasa, melainkan kampung susun yang dirancang secara terpadu. Konsep hunian tersebut mengoptimalkan penggunaan luas lahan yang tersedia.

Vertical village nantinya mengkombinasikan ruang terbuka hijau di atas bangunan sebagai sarana sosialisasi, mal yang ditunjang fasilitas hiburan seperti bioskop, pasar modern, hotel hingga perkantoran. “Kami membuat konsep menara pencakar langit modern, yang kelak dapat menjadi simbol baru bagi Jakarta yang lebih modern. Bila ini terwujud, saya pikir dapat mengalahkan Petronas,” kata Maas dalam sebuah diskusi di Jakarta, Mei lalu.

Inovasi tersebut, diklaim sebagai salah solusi yang dapat mengatasi berbagai persoalan Jakarta. Dengan menggabungkan seluruh kemudahan yang ada pada satu tempat, konsep hunian perkampungan yang ada tetap menjadi dasar pemikiran pembangunan vertical village. “Dapat disebut super-kampung. Saya pikit itu kata yang keren,” ujar Maas.

Saran serupa juga dikemukakan Darrundono (83). Ahli tata kota di zaman Gubernur Ali Sadikin (1966-1977) ini, saat ditemui Sandiaga Salahudin Uno, mengaku ingin memberikan sumbangsih pikirannya. Poin penting Darrundono yang disampaikan Sandy, perencanaan penataan Jakarta tidak dapat diselesaikan dengan satu pendekatan; dan pembangunan Ibu kota mesti fokus terhadap rakyat miskin.

Darrundono adalah arsitek proyek MH Thamrin. Sebuah kampung improvement yang sangat sukses dan memenangi Aga Khan Award. Dia juga penggagas kampung deret. Baginya, kampung atau rumah yang ada sekarang sebagai rumah kumuh dan miskin itu sebenarnya bisa ditata. Tapi tak semuanya bisa diselesaikan dengan kampung deret. Ada masing-masing solusi untuk masing-masing kondisi yang ada di lapangan.

Ada optimisme menjelang pelantikan Gubernur & Wakil Gubernut DKI terpilih pada 16 Oktober ini. Sandiaga Uno menyebut, Tokyo itu dulunya juga nggak didesain untuk 10 juta orang lebih. Kini masyarakatnya bisa hidup di hunian vertikal dan tempat-tempat yang lebih efisien. Pemprov harus berhati-hati mengambil keputusan, karena keputusan akan berdampak beberapa puluh tahun ke depan.●(dd)