Koperasi BMI tak pernah kendor menjalankan misi pemberdayaan dan sosial, meski digempur pandemi COVID-19. Ini tak lepas dari dukungan dan militansi anggota melakukan zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
Wajah-wajah sumringah senantiasa terpancar dalam setiap aksi sosial yang dilakukan Koperasi BMI. Ya, selama ini Koperasi yang dikenal dengan praktik tanggung jawab sosial terbaik itu memiliki beragam program pemberdayaan yang dibutuhkan oleh anggota maupun masyarakat pada umumnya. Salah satunya adalah Rumah Hibah Siap Huni (HRSH) merupakan program andalan yang dilakukan secara kontinu, meski di tengah pandemi COVID-19 yang belum usai.
Presiden Direktur Koperasi BMI, Kamaruddin Batubara, biasa disapa Kambara mengatakan HRSH merupakan wujud kehadiran pihaknya untuk pemerataan ekonomi. “Koperasi harus hadir untuk mengangkat kesejahteraan anggotanya dengan semangat gotong royong sebagaimana yang dicetuskan Bung Hatta,” ungkap Kambara.
Program HRSH terbukti telah membantu ratusan orang anggota dan non anggota memiliki rumah idaman. Salah satunya penerimanya adalah Aas Asiah, 65 tahun, perempuan warga Kampung Kedokan, RT 01, RW 02, Desa Putat Nutug, Kecamatan Ciseeng yang merupakan anggota Koperasi BMI Cabang Ciseeng, Kabupaten Bogor. Penyerahan rumah gratis kepadanya dilakukan akhir Oktober lalu.
Acara penyerahan rumah baru bagi Aas tersebut dihadiri oleh para pimpinan Koperasi BMI dan pejabat pemerintahan setempat antara lain Kasi Penkes Perkoperasian Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Bogor A Yusri, Danramil Parung Kapten ARM Suhardi, Kasi Ekbang Kecamatan Ciseeng Lukman dan Kades Putat Nutug Mad Darmawan.
Sebelum dibangun BMI, kondisi rumah Aas jauh dari kata layak huni. Atap rumah banyak yang bolong dan dinding bilik ditambal dengan plastik seadanya. Sehingga, jika hujan ia yang tinggal bersama anak bungsu dan dua cucunya itu terpaksa mengungsi ke rumah tetangga atau saudaranya, khawatir rumahnya roboh.
Aas bukannya tidak ingin memperbaiki rumahnya. Namun kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan membuat ia terpaksa tinggal di rumah tersebut. Aas pernah berjualan nasi uduk. Namun karena kondisi fisik yang menua dan sering sakit, jualan nasi uduknya terpaksa tutup. Ia pun bekerja serabutan membantu tetangga kanan-kiri dengan bayaran ala kadarnya. Aas pun telah mengajukan pembiayaan sebesar Rp2 juta kepada BMI.
Kehadiran Koperasi BMI mengubah kondisi rumahnya secara drastis. Atap rumah kini telah berganti dengan asbes kokoh. Dinding bilik bambu berubah menjadi hebel. Pun dengan lantai rumah yang berganti menjadi keramik putih, dari beranda rumah hingga ke dapur.
Saat menerima penyerahan rumah secara simbolis, Aas dan keluarga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Isak tangis penuh keharuan pun pecah di acara tersebut. Ia dan keluarga mengucapkan terima kasih kepada Koperasi BMI.
Kambara menambahkan, anggota BMI harus bangga dengan program-program pemberdayaan dan sosial yang dilakukan. Oleh karenanya, tokoh koperasi berprestasi ini pun mengajak anggota untuk semangat bersedekah sebagaimana perintah Allah SWT dalam Alquran Surah At Thalaq 2-3 atau yang sering disebut Ayat Seribu Dinar.
”Inilah rezeki yang tak disangka-sangka. Padahal, saya baru ke sini. Allah SWT Kalau sudah ngasih rezeki tak pernah lihat-lihat. Bisa saja Bu Aas dalam salat malamnya minta sama Allah dapat rumah baru. Rumah ini sedekahnya BMI, sedekahnya ibu-ibu yang menjadi anggota BMI,” ungkapnya.
Santunan Dhuafa
Selain program HRSH, Koperasi BMI juga terus menyalurkan bantuan untuk kaum dhuafa. Sampai akhir Oktober 2021, Koperasi BMI telah menyerahkan santunan untuk 193 dhuafa. Paket santunan yang diberikan adalah sembako seperti beras, mnyak goreng, mie instan, dan kecap yang semuanya berasal dari toko grosir milik Koperasi BMI.
Adapun kriteria penerima santuan dhuafa BMI antara lain berusia lanjut, tidak memiliki penghasilan dan tinggal di rumah yang tak layak huni. Sebelum diberikan bantuan, pihak BMI terlebih dahulu melakukan survei. Jumlah santuan dhuafa yang diberikan sebesar Rp250 ribu per orang.
Menurut Kambara, semangat untuk menyebarkan ibadah muamalah telah menjadi pondasi berdirinya BMI sebagai lembaga keuangan syariah terbesar di Provinsi Banten. Dirinya berharap anggota BMI memahami peranan Ziswaf sebagai bentuk kewajiban dan ibadah kepada Allah SWT.
”Koperasi BMI berdiri tegak hingga 278 ribu anggota seperti ini karena kekuatan sedekah. Sehingga apa yang di janjikan Allah dalam menjalankan Ziswaf dapat kita raih yakni menambah rezeki, memperpanjang umur, menyembuhkan dari penyakit, menjauhkan diri dari marabahaya. Ini keniscayaan,” ujarnya.
Santunan dhuafa adalah salah satu bentuk praktik Model BMI Syariah. Model BMI Syariah memiliki lima instrument pemberdayaan, melalui sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan dan investasi, yang direalisasikan melalui semangat untuk menabung, dan menyalurkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf (ZISWAF) sesuai syariah Islam.
Selain HRSH dan santunan dhuafa, Koperasi BMI juga memiliki program Gerakan Seribu Sajadah dan Al Quran ( Geser Dahan), Sanitasi Mesjid Musholla dan Pesantren (SANIMESRA), Santunan Pendidikan, Santunan Yatim dan Dhuafa, Pengadaan ambulance dan operasionalnya.
“Koperasi BMI sangat menjunjung tinggi filosofi koperasi sesuai ajaran Bung Hatta. Koperasi harus punya misi sosial yang tinggi, oleh karena itu kita selalu tunjukkan kepada anggota dan masyarakat bahwa koperasi harus hadir di tengah kesulitan masyarakat,” pungkasnya.





