CILACAP—Pada 2015 Rosita Trisiyani (30 tahun) tersentuh melihat potensi warga di lingkungan, Dusun Banjar Baru, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap memiliki keterampilan membatik secara turun-temurun.
Sayangnya potensi tidak digarap dan dikembangkan, padahal batik yang dikenal sebagai batik kluprit dan bati sewaru ini punyya potensi besar. Pada 2015 dia mendirikan usaha dnegan nama Batik Sekar Waru.
Usaha ini memberdayakan sekitar 10 ibu rumah tangga dan mereka bekerja di pekarangan samping rumah mulai dari meneteskan cairan malam dalam canting hingga pewarnaan . Dalam sebulan Rosita mengaku memproduksi 25 batik tulis dan ratusan batik printing.
Untuk batik tulis dibandroll dengan harga Rp250 ribu hingga Rp2,5 juta, sementara untuk printing Rp150 ribu hingga Rp250 ribu.
“Omzet sebulan rata-rata sebelum pandemi Rp70 juta, sewaktu pandmei turun skeitar Rp50 juta. Pasalnya pembatasan sosial membuat banyak acara tidal terlaksana, padahal segmen batiknya memang untuk pemakai pada acara tertentu,” jelas prempuan kelahiran 1991 ini kepada Peluang, Senun (14/6/21).
Sebelumnya, kata Rosita batik hasil karya warga Dusun Banjarwaru ini hanya sampai pada tahap pembuatan motif. Sedangkan tahap pewarnaan harus dibawa ke Yogyakarta.
“Setelah itu baru dikirimkan kembali ke pembuatnya. Lalu dijual di pasar-pasar tradisional. Resikonya kalau tidak laku, ya dibawa pulang lagi,” ujarnya.
Lanjut Rosita, pada awalnya ia hanya memberdayakan dua orang tetangganya dalam usaha ini. Awalnya hanya dibantusuami dan dua orang pembatik.
“Lalu hasilnya saya tawarkan ke kantor, dinas, maupun sekolah. Yang namanya baru memulai, tidak langsung laku. Apalagi ini batik tulis, yang harganya jelas lebih mahal dari batik cap,” jelasnya.
Namun, ibu dari satu orang ini adalah sosok yang pantang menyerah. Ia terus berjuang memasarkan batik khas Desa Klumprit, yang disebut menjadi batik tertua di Kabupaten Cilacap. Batik yang ia tawarkan memiliki ciri khas dan corak asli Desa Klumprit secara turun-temurun, seperti Klabang Bures, Parang Angking, Truntun, Parang Kembang, Kawung, dan lain-lain.
“Saya juga kombinasikan dengan motif kekinian, namun tetap mempertahankan motif asli,” lanjutnya.
Kerja kerasnya secara perlahan membuahkan hasil menggembirakan. Respon pasar terhadap batik khas Desa Klumprit semakin positif, terlebih sejak masuknya Program Kemitraan Pertamina Kilang Cilacap.
“Alhamdulillah sejak menjadi mitra Pertamina Kilang Cilacap, usaha Batik Sekar Waru semakin lancar. Saat ini saya dibantu 10 orang karyawan, dan sekali waktu jika ada order dalam jumlah besar saya bisa memberdayakan 20 orang warga sekitar untuk menyelesaikannya,” katanya.
Ia berharap usaha batiknya terus berkembang, dan turut serta menyejahterakan warga sekitar.
“Batik Klumprit itu adalah salah satu warisan leluhur yang wajib dilestarikan. Melalui usaha ini, selain menjaga warisan para leluhur, kami juga berupaya semaksimal mungkin memberdayakan para ibu agar bisa berkarya dan menambah kesejahteraan,” ujarnya (Irvan).








