hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Batik Ciwaringin, Batik Desa Tiga Generasi Pertahankan Perwanaan Alami

CIREBON—Desa Ciwaringin di Kabupaten Cirebon punya tradisi membatik sejak masa Hindia Belnda. Salah seorang di antara generasi ketiga pembatik adalah Muhammad Suja’i yang berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Blok Kebon Gedang Lor.

Suja’i tergolong generasi muda bertekad mengembalikan kejayaan Batik Ciwaringin pada 197o-an. Kerajinan ini mundur pada 1990-an karena booming batik cetak (printing) dan terbentur masalah regenrasi. Dengan modal Rp20 juta dia membangkitkan kembali kerajinan batik pada 2000-an.

Batik Ciwaringin ini merupakan itu batik tulis warna alam dengan proses pewarnaan dari bahan alami di antaranya dari  ekstrak daun mahoni kulit duren, kulit jengkol dan daun nila atau lndigovera dan kayu tegeran.

Penggunaan bahan alami ini menjadi kekuatan batik ini dan diminati oleh konsumen di Eropa, yang sangat memperhatikan aspek ini dan tak segan-segannya melakukan

Saat ini perajin batik di desa itu berjumlah 20 orang, menjual batik dnegan harga Rp500 ribu hingga Rp3,5 juta, dipasarkan secara daring maupun luring dengan konsumen dari dalam dan luar negeri.

“Sebelum pandemi kami meraup omzet Rp50 juta per bulan, namun kemudian omzet anjlok hingga Rp30 jutaan. Kami mensiasatinya dengan membuat masker batik,” ujar Suja’i ketika dihubungi Peluang, Senin malam (3/5/21).

Menurut Suja’i, para perajin masih bersukur penjualan berjalan lancar walau masih dilanda pandemi. Ke depan mereka tetap akan mempertahankan produksi batik tulis alami dan berharap pandemi cepat berlalu.

“Sangat-sangat berharap pandemi ini cepat selesai. Terlebih kan vaksin sudah ada. Tapi kalau saya selaku pelaku UMKM berharap ada kepedulian dari pemerintah kepada kami,” tutup dia (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate