hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Batik Blimbing, Hadirkan Motif Ikon Kota Malang

MALANG—Banyak daerah di nusantara ini mempunyai budaya dan tradisi membatik sendiri, bahkan di sebagian besar daerah di Jawa sebagian punya batik sendiri  bahkan pemain baru pun terus bermunculan. Di antaranya Aulya Rismawati bersama ibunya Wiwik Niarti dan ibu-ibu PKK lainnya mengikuti pelatihan batik di Kelurahaan Blimbing Malang pada 2009.

Namun hanya sedikit yang mendirikan usaha batik, di antaranya Wiwik dan Aulya mendirikan usaha keluarga pada 2011 dengan brand Batik Blimbing.

Menurut Aulya agar bisa bersaing di pasar, Batik Blimbing sengaja membuat batik-batik yang berbeda dengan batik dari berbagai daerah lain. Batik Blimbing diambil dari banyaknya inspirasi kekayaan budaya di Malang.

Motif topeng Malangan, berkembang dengan motif Kampung Warna Warni, Malang Heritage hingga Tugu Malang. Dengan membawa kekhasan Malang, akhirnya batik buatan warga Jalan Candi Jago Nomor 6 ini sukses di pasar.

“Pemesannya tidak hanya orang di Jawa Timur, tetapi juga di Jabodetabek hingga Kalimantan, ada juga pemesan dari Amerika serikat dan Jepang,” ujar Aulya ketika dihubungi Peluang, Rabu (16/6/21).

Produknya dijual dengan harga Rp175 ribu hingga Rp3 jutaan untuk paket batik komplit mulai dari sepatu hingga atasan. Sebelum pandemi usaha keluarga ini meraup omzet Rp10 juta dengan empat karyawan.  Batik Blimbing juga menawarkan paket eduwisata di antaranya belajar membatik dengan harga kisaran Rp50 ribu dengan segmen keluarga, hingga anak sekolahan.

Sayangnya pandemi juga berdampak bagi usahanya,omzet sempat merosot. Namun usaha ini tetap bertahan.

“Selain melalui berbagai pameran dan toko offline, Kami juga memanfaatkan Instagram, Facebook untuk memasarkan produk Batik Blimbing,” terang Aulya.

Bukan hanya itu, Aulya juga selalu memperkuat jaringan usaha untuk mengembangkan pasar. Termasuk bergabung dengan Asosiasi Pengrajin Batik Jatim (APBJ) yang aktif menggelar berbagai kegiatan dan pameran.  Dia juga menjadi Binaan Bank Indonesia sejak 2014 yang membuatnya ikut berbagai pameran, seperti di Jakarta dan Palembang.

“Ke depan, kami berharap agar pandemi berakhir dan kami bisa memulihkan pendapatan kami,” tutup perempuan kelahiran 1983 ini. (Irvan)

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate