CILACAP—Getuk merupakan makanan khas Indonesia dari olahan singkong, terancam kelestariannya, karena pedagang getuk semakin berkurang jumlahnya dan tidak banyak meneruskan usaha ini.
Yang masih mau melestarikannya ialah Bariyah, warga Jalan Wahidun, Gang Buntum Kelurahan Sidakaya Kecamatan Cilacap Selatan, menghadirkan Getuk dengan brand Nylekitho.
Nylekitho didirikan pada 2018, ketika Bariyah memutuskan untuk melanjutkan usaha getuk dari sang nenek. Mbah Sawinem, Sang Nenek mendirikan usaha ini sejak 1980.
“Eman-eman (sayang) kalau tidak dilanjutkan karena sudah banyak pelanggannya,” ujar Bariyah, dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/5/21).
Bariyah mematenkan produknya dan mengemasnya dengan semangat optimis dan pecaya diri.Untuk menjaga rasa, produksi getuk tetap dilakukan manual,” tegasnya.
Getuk tumbuk Nylekitho kini sudah dikenal di kalangan pecinta jajanan tradisional. Pesanan juga datang dari instansi, untuk rapat, arisan maupun hajatan. Usaha yang dijalankan bersama suaminya Suwaryan ini kemudian dilirik Pertamina Kilang Cilacap menjadi binaannya.
Omzet yang semula Rp4 jutaan per bulan melesat menjadi Rp30-40 jutaan. Meskipun demikian diakui Waryan, awal pandemi Covid-19 pada Februari 2020, sempat memukul usaha mereka. “Alhamdulillah, berkat program kemitraan Pertamina kami merasa sangat terbantu,” ucapnya.
Nylekitho terus melakukan inovasi pengemasan sesuai tren dengan teknik marketing media sosial. Selain itu usaha yang diperkuat lima karyawan ini menerapkan sistem titip jual ke beberapa kantin atau toko makanan di Cilacap.
Bariyah juga membuka gerai di pasar kuliner Cilacap, Cia-cia, kios di ajang Sunday Morning stadion Wijayakusuma Cilacap. Tak lama berselang ia juga membuka satu lapak di area food court sebuah pasar swalayan ternama di Cilacap, hingga meramaikan pasar kuliner Car Free Day (CFD) di alun-alun kota Cilacap.








