Lebih dari sebagai objek sejarah, Museum Tsunami juga berfungsi sebagai tempat evakuasi jika terjadi tsunami. Cocok untuk memberikan edukasi kepada anak-anak.
BANDA Aceh lazimnya diidentikkan dengan banyak hal. Banda biasa disebut dengan julukan Serambi Makkah. Ia beririsan dengan Islam, agama samawi perdana yang membumi sebelum merambah ke seluruh wilayah Tanah Air. Ditandai pula dengan kesultanan Islam pertama di Ibu Pertiwi. Juga tak sedikit masjid yang tampil dengan berbagai corak arsitektur Barat ataupun Timur.
Memori paling mencekam tentang kota di pengujung utara Sumatera ini tentulah malapetaka 26 Desember 2004. Banda Aceh dilanda gelombang pasang tsunami akibat gempa 9,2 pada Skala Richter di Samudera Hindia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota. Statistik Pemerintah mencatat, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2019 adalah 270.321 jiwa, atau 60%-65% dari sebelumnya.
Mujurnya, segenap komponen masyarakat bangkit dengan optimistis dan terarah. Duka tak layak dikenang dan dipendam berkepanjangan. Toh bantuan kemanusiaan (baik untuk tanggap darurat maupun untuk pemulihan) mengalir dari berbagai penjuru dunia. Rumah-rumah dan berbagai infrastruktur dasar yang hancur lebur dibangun kembali. Gedung-gedung sekolah, meunasah dan masjid perlahan pulih, sejalan dengan lambannya pertumbuhan populasi.
Di sektor pemerintahan, Banda Aceh mencatat satu hal positif yang konsisten. Per September 2022, Pemko Banda Aceh mendapat penghargaan dari Menteri Keuangan Republik Indonesia karena berhasil meraih Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 14 kali secara berturut-turut. “Kita berharap tidak hanya sekadar status hasil audit BPK yang WTP, tetapi APBN dan APBD benar-benar bermanfaat sebagai instrumen keuangan negara di Pusat dan Daerah dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa dan negara Indonesia,” kata Menkeu Sri Mulyani.
Opini yang diberikan terhadap laporan keuangan pemerintah daerah, termasuk opini WTP, merupakan pernyataan profesional pemeriksa mengenai kewajaran laporan keuangan. Ini satu hal mendasar dalam tata kelola eksekutif. Namun hal itu bukan jaminan tidak adanya fraud atau penyimpangan.
SEBAGAI ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam, Banda Aceh berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang pernah ada, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, Kerajaan Indrapura (Indrapuri).
Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribu kota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Di akhir abad ke-15, berkat jalinan hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, pusat singgasana Kerajaan Lamuri dipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi Istana Meukuta Alam itu berada di wilayah yang saat ini bernama Banda Aceh.
Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribu kota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Kendati masa pemerintahannya relatif singkat, ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.
Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim. Khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Ia menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari Kompleks Istana Kesultanan Aceh, karenanya dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).
Pada masa agresi kedua Belanda (1948), Van Swieten memproklamasikan jatuhnya Kesultanan Aceh. Dia mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Baru pada 28 Desember 1962 nama kota ini kembali menjadi Banda Aceh.
Dalam posisinya sebagai pintu gerbang, Aceh merupakan tempat persinggahan para pedagang Cina, Eropa, India dan Arab. Logis saja jika Aceh jadi kanal budaya dan berbagai agama. Pada abad ke-7, para pedagang India memperkenalkan agama Hindu dan Buddha. Namun peran Aceh menonjol sejalan dengan masuknya agama Islam, yang diperkenalkan oleh pedagang Gujarat dari jajaran Arab menjelang abad ke-9. Di sinilah lahirnya dua kerajaan/kesultanan Islam pertama di Indonesia, yaitu Peureulak dan Pasai.
Masjid Raya Baiturrahman. Masjid bersejarah ini bukan hanya ikon Serambi Mekkah, tapi juga simbol perjuangan dan penyebaran Islam di Indonesia hingga semenjung Asia Tenggara. Bangunan Masjid Raya Baiturrahman merupakan bangunan cagar budaya dunia dengan kontruksi luar dalamnya merupakan keaslian elemen bangunan dari zaman pra kemerdekaan.
Masjid Haji Keuchik Leumik. Masjid yang dijuluki sebagai Masjid Emas Aceh ini merupakan satu di antara situs yang banyak dikunjungi warga, baik dari dalam maupun luar negeri. Masjid yang bernuansa Timur Tengah dan bergaya Spanyol. Menyerupai masjid Nabawi di Madinah. Masjid Baitul Musyahadah. Bangunanya yaitu kubahnya unik. Berbentuk kupiah yang jauh berbeda dibandingkan kubah masjid umumnya yang berbentuk bulat atau limas.
Masjid Oman Makmur. Terletak di Lampriet, Kota Banda Aceh. Dibangun tahun 1979 secara swadaya oleh masyarakat. Masjid ini rusak parah setelah diterpa tsunami 2004 sehingga tidak bisa lagi difungsikan karena kubah dan atapnya ambruk menutup lantai. Masjid Baiturrahim Ulee Lheu. Masjid ini menjadi satu dari sedikit bangunan yang masih kokoh berdiri di kawasan Ulee Lheue ketika musibah tsunami itu terjadi. Arsitekturnya dipengaruhi gaya Eropa.
Rekapitulasi sejarah perjuangan menunjukkan, Aceh merupakan penyumbang pejuang wanita terbanyak di Indonesia. Dua di antaranya yakni Cut Nyak Dhien dan Laksamana Keumalahayati, bahkan tercatat sebagai “7 Warlord Women in The World”. Kedua srikandi pekasa itu juga masuk dalam daftar “10 Best Female Warrior at All Time dan Women Warrior in Southeast Asia”.
Aceh juga dikenal sebagai surganya kopi. Beragam jenis kopi ada di Aceh. Tak hanya populer di daerahnya saja, Kopi Aceh juga sangat populer di luar negeri, seperti kopi Gayo dan Ulee Kareng. Jika kamu berkunjung ke Aceh, kamu akan menemukan banyak sekali warung kopi di setiap sudut kota. Bahkan, warung kopi tersebut buka hingga 24 jam.
Aceh juga punya warisan dunia yang diakui UNESCO Hutan Hujan Aceh juga memiliki dua warisan dunia non-benda yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Yakni Tari Saman yang diakui pada tahun 2011, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera pada tahun 2014. Hutan tropis mencakup Taman Nasional Gunung Leuser, yang 70 persennya di dalam wilayah Provinsi Aceh.
Wajah Kota Banda Aceh pasca-bencana tsunami 18 tahun silam itu praktis tercerahkan. Bencana itu ‘diabadikan’ dalam bentuk Museum Tsunami. Museum ini merefleksikan kenangan pahit 26 Desember 2004. Pemerintah membangun ‘Museum Tsunami’ di Jalan Iskandar Muda. Dirancang Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, inilah museum tsunami pertama di dunia. Lebih dari sebagai objek sejarah, ia juga berfungsi sebagai tempat evakuasi jika terjadi (moga jangan) tsunami. Museum ini cocok sebagai wahana edukasi kepada anak-anak.●(Zian)








