hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Ayu Prameswari, Jalani Vegetarian, Jualan Abon Vegetarian

KARANGANYAR—Saat ini sudah banyak masyarakat, terutama di urban menjalankan pola hidup vegetarian. Di antara mereka terdapat nama  Ayu Prameswari, warga Karanganyar, Jawa Tengah.

Perempuan kelahiran 1981 ini  memang menggemari makanan sayuran dan suatu ketika terpikir untuk membuka usaha makanan  yang jauh dari daging, sekaligus membantu ibu-ibu yang kesehariannya menghindari makan daging.

Selain terinspirasi dari pola hidup vegetarian bersama Sang Suami, Ayu juga melihat banyak hasil pertanian yang berlimpah dan tidak dimanfaatkan dengan baik.

Untuk itu Ayu memutuskan untuk memproduksi abon vegetarian pada 2019 dengan bahan dari jantung pisang, buah cempedak, wortel, brokoli dan seledri.

Meskipun untuk bisa mendpatkan abon dengan cita rasa berkualitas tidak semudah memasak biasa di dapur. Dari mulai memilih bahan baku, menentukan cita rasa, menentukan kemasan yang baik yang aman untuk produk, sampai merintis pemasarannya.

Abon  dengan brand vegetarian Gadhing De’Vegan memiliki 3 varian sesuai bahan dasarnya, dijual dengan harga Rp35.000-Rp40.000,-

“Produk kami dipasarkan ke beberapa kota besar, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bangka Belitung, bahkan ada pemesan dari  Selandia Baru dan Singapura,” ujar Ayu ketika dihubungi Peluang, Kamis (26/8/21).

Ayu megungkapkan, sebelum pandemi produksinya sebulan mencapai dua ribu pieces untuk sebuah varian dengan omzet tertinggi sebelum pandemi mencapai Rp25 juta per bulan.

Untuk menjalankan usaha, Ayu berdiskusi dengan suaminya seperti layaknya partner kerja. Sang Suami, berpesan untuk konsisten kalau punya usaha.

Konsisten itulah yang diusung Ayu selama menjalani usaha ini. Setelah satu tahun berjalan dan menunjukkan hasil, tidak diduga pandemi melanda. Penjualan anjlok yang berarti mengalami kerugian besar.

“Produk kita itu kan bahan bakunya dari bahan sayuran segar. Jantung pisang yang baru dipanen langsung olah, cempedak yang baru dipetik langsung olah. Jadi tidak ada bahan baku yang disimpan dulu. Semua langsung diolah,” papar Ayu.

Sayangnya ketika produknya mulai berkembang,  pandemi sangat berdampak pada usahanya dikarenakan kota-kotabesar terkena PPKM, Pariwisata menurun, dan akhirnya berdampak ke jumlah produksinya.

“Cara mensiasatinya adalah dengan beralih memasarkan produk kami secara daring di media sosial, e-commerse, dan juga mengikuti berbagai peluang yang diadakan oleh kementrian dan juga pameran-pameran daring yang difasilitasi oleh Kementrian RI,” ungkap Ayu.

Di tengah pandemi , pada pertengahan 2020,  Gadhing De’Vegan menjadi mitra binaan bank Indonesia. Ayu mengaku manfaatnya sangat banyak untuk menunjang pengenalan dan pemasaran produknya ke masyarakat serta memfasilitasi dalam pameran yang sudah diadakan oleh Bank Indonesia.

“Bank Indonesia membantu mempertemukan kami dengan calon-calon buyer ataupun menghubungkan kami dengan agregator di bidang yang sama dengan kami. Untuk saat ini secara langsung dapat buyer dari luar negeri belum, kami mendapatkan melalui agregator saja,” lata Ayu.

Ke depan, Ayu merencanakan menambah varian baru lagi dan juga memproduksi beberapa jenis makanan Vegan. Dia juga akan menginovasi makanan  vegetarian lainnya yang diadopsi dari makanan tradisional Indonesia.

“Tentunya memperluas jaringan pasar dalam dan luar negeri,” tutupnya (Irvan).

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate