JAKARTA-–Dunia wirausaha sudah digeluti Erna Sari sejak usianya masih belasan tahun. Ketika itu warga Puri Agung, Kecamatan Kembangan, Jakarta Barat berjualan aksesoris, dan alat pendukung telekomunikasi.
Pada 2013, Erna memutuskan untuk beralih ke usaha kuliner sesuai hobinya dengan mendirikan usaha Ayam Penyet Bandung (@ayampenyetbandung) atau dikenal masyarakat dengan singkatan APB. Pada awal usahanya, APB hanya memiliki 1 orang karyawan.
Sebagai debutan, waktu itu Erna juga menghadapi berbagai kendala dan tantangan dan pasang surut hingga sempat gulung tikar. “Dulu mulai usaha pakai tenda di trotoar pinggir jalan,” ucap Erna dalam keterangan tertulis, Senin (4/10/21).
Namun Erna optimis tetap tumbuh karena yakin dengan cita rasa ayam penyet yang diolahnya dengan bumbu resep tradisional khas Sunda yang meresap hingga ke tulang. Selain itu, Ia juga menghadirkan produk sambal khas untuk melengkapi produk ayam penyetnya.
Keuletan Erna rupanya mendapat dukungan berbagai pihak. Di antaranya menjadi mitra binaan Pertamina. Erna mampu menjual produk kulinernya hingga mencapai 450 porsi/ hari. Di mana dalam sebulan, dia bisa meraup omzetsekitar Rp200 juta.
Saat ini sudah 16 karyawan yang membantu Erna menjalankan usahanya di 5 cabang di Jakarta dan 2 cabang di Tangerang. Mayoritas di antara mereka adalah perempuan. Mereka terdiri dari para ibu rumah tangga maupun para perempuan muda yang membutuhkan pekerjaan.
“Komitmen dari awal membuka usaha adalah mampu menyediakan lapangan pekerjaan untuk perempuan,” tuturnya.
Saat ini perempuan kelahiran Tasikmalaya 39 tahun lalu ini mengaku sedang mempersiapkan untuk membuka 3 cabang baru.
Kiat Usaha
Apa kiat usahanya, Erna mengaku hanya menjaga betul kualitas produk makanannya. Hal itu terbukti dari sejumlah sertifikasi usaha yang dimiliki. Mulai dari IUMK, Halal, hingga Higiene Sanitasi Pangan (HSP) dan Sertifikasi Food Handler (Penjamah Makanan) dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
Usaha ayam penyet ini hadir sebagai salah satu solusi bagi masyarakat yang tidak sempat untuk memasak sendiri karena memiliki aktivitas yang padat. Produk ayam penyet juga diolah secara higienis dengan varian menu yang beragam. Dalam proses produksi, Ia menggunakan bahan baku lokal dan langsung diolah setelah membelinya.
Sementara di tengah pandemi saat ini, Erna mengakui bahwa salah satu kendala yang dialaminya adalah beradaptasi dengan platform digital. Karena sebelumnya, pemasaran produk Ayam Penyet Bandung dilakukan secara fisik (offline) dengan berjualan di ruko dan kantin.
Erna kemudian beradaptasi dengan strategi pemasaran secara daring memanfatakan media sosial dan mengemas produknya menjadi frozen food sehingga bisa dikirim ke luar Jakarta.
Salah satu tips yang diberikan oleh Erna adalah dengan bergabung dan berkolaborasi dalam jejaring komunitas. Melalui kolaborasi dengan komunitas mempermudah dirinya untuk saling bertukar informasi dan berkeluh kesah antar pelaku usaha.
“Menurut saya, sekarang sudah era modern dan global sehingga sudah bukan zaman untuk bersaing namun penting untuk berkolaborasi antar sesama pelaku UMKM,” pungkasya.





