JAKARTA—-Pelaku kuliner bakso semakin banyak bermunculan, tetapi bukan berarti pasarnya menjadi jenuh. Pasalnya masing-masing pelaku bakso mempunyai kreativitas, baik dari segi rasa, kemasan penjualan, hingga mempunyai brand.
Seorang alumni SMAN 3 Jakarta Arie Darmawan menawarkan bakso bernuansa Betawi lengkap dengan tagline “Loe Beli, Gue Jual”, membalikan ungkapan yang berbunyi sebaliknya menjadi daya tarik kuat untuk konsumen.
Saya mendapatkan kesempatan mencici bakso racikan Arie dengan dua jenis bakso, yaitu bakso original dan urat. Hasilnya kekuatannya adalah tesktur dagingnya sangat kuat, bukan dominan tepung seperti kebanyakan bakso gerobak keliling yang pernah saya cicipi.
Hanya saja kuahnya terasa hambar apabila dipanaskan dengan tambahan air. Ketika saya hubungi ternyata hal itu dirancang untuk rata-rata orangtua yang punya risiko darah tinggi dan anak-anak. Jadi harusnya kalau yang ingin terasa asin ditambah garam, sesuai selera.
Hal ini berbeda dengan pelaku kuliner bakso yang pernah saya cicipi, ada yang mengandalkan kuah kaldu, terutama yang dari Jawa Tengah.
Nah, menurut Arie, faktor kesehatan merupakan perhatian bagi dia untuk kuliner bakso ini. Arie tidak mau menggunakan MSG dan pengawet, tetapi ingin baksonya tetap kenyal, akhirnya setelah berupaya, dia menemukan formula pada komposisi daging.
Dia berhasil membuat bakso daging segar, tanpa campuran daging lain serta tanpa MSG pengawet, pengenyal dan pengembang.
Arie membuat bakso sekitar 12 tahun lalu, untuk hidangan Lebaran, Ibu saya minta dibelikan tulang sumsum untuk buat kuah bakso, sementara baksonya beli di pasar swalayan.
“Saat membeli tulang di pasar , tukang daging bilang kenapa tidak buat sendiri ajah baksonya? Saya jawab belum pernah dan ngga tau bumbunya, takarannya. Tukang daging tersebut menyarankan saya utk bertanya ke tukang gilingnya,” tutur Arie melalui WhatsApp, Sabtu (20/6/20).
Arie pun kemudian bertanya pada tukang giling daging dan dia melihat beberapa tukang baso yang mau giling daging, memasukan berapa bumbu. Dia pun merintis bakso dengan konsep yang mengedepankan kesehatan dan itu butuh “try and error” selama tiga bulan.
Namun Arie baru terjun ke dunia wirausaha dua tahun lalu atas usul teman SMA-nya. Bakso dipacking dengan sistem vacum agar tetap bagus dan enak dilihat. Mulanya hanya beredar di kalangan terbatas, akhrinya untuk umum, mulai dapat pesanan. Arie memasarkan secara daring, sementara warungnya ada di rumah.
Baksonya dijual lima porsi seharga Rp90 ribu untuk bakso biasa dan bakso urat Rp100 ribu, termasuk kuha, bihun, bawang goreng. Selain itu dia juga menjual bakso per pak plus kuah Rp87.500.
Ke depannya Arie, berencana mempunyai sebuah restoran bakso dilengkapi mesin pembuatan bakso, pencacah daging, mixer dan sebagainya (Irvan Sjafari).