KEDIRI—-Ari Basuki, warga Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri mendapat warisan istimewa dari neneknya. Bukan harta benda, tetapi resep obat herbal dari ikan gabus. Sang Nenek sering mengobati cucunya sehabis melahirkan dengan air hasil rebusan ikan gabus.
“Dari resep itu saya mulai usaha kecil-kecilan obat herbal pada 2013, yaitu memproduksi ekstrak ikan gabus berupa kapsul dengan merek Almina. Khasiatnya beragam, di antaranya mempercepat penyembuhan luka, pemulihan kondisi setelah sakit dan pemulihan fungsi hati,” papar Ari kepada Peluang melalui WhatsApp, Kamis (5/11/20).
Ari juga mengembangkan obat herbal lainnya seperti ekstrak kunyit dan mulanya dijual dalam kalangan terbatas. Seiring dengan berjalannya waktu, dia lebih serius untuk mengembangkan ekstrak ikan gabus karena lebih mudah dipasarkan dan bisa diterima sebagai obat herbal modern.
“Kalau teknik pembuatan dalam sediaan kapsul saya banyak bertanya ke teman teman apoteker. Kebetulan pekerjaan utama saya waktu itu adalah marketing perusahaan farmasi, maka bagi saya tidak asing untuk mempelajari pembuatan obat dikemas dalam kapsul,” tutur dia.
Setelah lima tahun, izin edar dari POM keluar hingga dia bisa menjual ke kalangan lebih luas. Namun Ari masih punya pekerjaan rumah dari POM yaitu sertifikat CPOTB belum kelar kelar hingga sekarang. Usaha Frozen Food berbahan baku gabus juga masih terbatas penjualannya.
Ikan gabus dodatangkan dari Lamongan dan Pasar Baduk, Warujayeng, Nganjuk. Ikan gabus yang digunakan yang ditangkap secara alami bukan budi daya. “Saya belum menemukan jurnal ilmiah yang meyakinkan tentang albumin ikan gabus hasil budi daya,” ucap dia.
Menurut Ari kebutuhan normal kan gabus untuk usahanya sekitar 200 kilogram perbulaan/ Sayangnya, saat pamdemi ini merosot sekali. Pandemi sangat terdampak karena outlet saya rumah sakit lebih konsen menangani pandemik covid 19 ini sehingga kebutuhan reguler terabaikan, demikian juga dengan outlet apotek.
“Ke depan saya rintis dengan penjualan daring dengan menggunakan marketplace. Selama ini kurang saya tekuni karena lebih mengandalkan penjualan offline, konsinyasi ke apotek dan toko obat. Setelah pandemi melanda ini baru menyadari pentingnya pemasaran daring,” katanya.
Ari juga akan memperluas jaringan pemasaran baik toko fisik maupun daring. Awal tahun ini dia sebetulnya sudah expansi sampai Jawa Tengah dan Jawa Barat.
“Saya juga membuka diri untuk mempersilahkan distributor reseller mau mau kerja sama,” tutup Ari (Van).








