BOGOR—Sejak masih kuliah di Fakultas Teknik Informatika Universitas Ibnu Chaldun, Masrur sudah aktif berwirausaha membuat roti. Warga Bubulak, Bogor, Jawa Barat ini juga aktif di Komunitas Baiti Jannati yang punya kegiatan sosial.
Untuk itu Masrur dan kawan-kawannya mendirikan bisnis garmen menganut konsep berkelanjutan pada 2018 dengan modal Rp800 ribu.
“Bisnis kami menganut sustainable fashion dengan eecoprinting dan natural due sebagai vocal pointnya,” ujar pemuda kelahiran Bogor, 9 Februari 1989 ini kepada Peluang, Senin (24/5/21).
Masrus melibatkan sekira 25 pemuda dalam bisnis gotong royong ini dan 15 persen keuntungannya disalurkan untuk kegiatan sosial komunitas.
Menurut dia, Arae singkatan dari Anita Rahman Ecocraft, yang memiliki makna harapan usaha rae bisa memberi kebahagian dan kasih sayang untuk masyarakat, yang dipresentasikan dalam sebuat produk yang ramah lingkungan dan berdampak baik terhadap sosial.
“Usaha kami berkembang pesat sejak kami memenangkan lomba desain sutra ecoprint terbaik sejabodetabek dan berhasil dilelang saat itu juga dengan harga Rp15 juta,” tambahnya.
Arae menawarkan berbagai varian produk mulai lembaran kain, ready to wear dan aksesoris pendukung sepeti tas, clutch dan sejenisnya, dengan harga dari Rp120 ribu hingga Rp5 juta tergantung jenis bahan dan desain.
Dalam sebulan Arae memproduksi kurang kebih 30 item terbatas karena termasuk produk handmade dengan pangsa pasar menjangkau seluruh Indonesia bahkan sudah ekspor ke Singapura, India dan Spanyol.
Omzet rata-rata dalam sebulan sebelum pandemi adala Rp30 juta atau sekira Rp350 juta per tahun. Namun menurut Masrus pandemi sebetulnya tidak berdampak pada usahanya karena sudah berjualan secara daring.
“Kami sudah berjualan secara daring sejak awal, kami juga membuka kelas terkait ecoprinting sebanyak lima kali,” ucap Masrur, seraya ke depan berencana merambah suvenir untuk korporasi, hampers ekslusif hingga kebutuhan hotel (Irvan).








