JAKARTA—-Banyak orang kantoran punya kekhawatiran kena PHK. Hal ini juga dipikirkan Agus Tri Santosa. Jalan keluarnya adalah berbisnis. Tapi pertanyaannya apa? Agus mendapatkan ide tersebut ketika jalan-jalan bersama sang istri Elva Fahrima ke mal sekitar sepuluh tahun yang silam.
“Waktu hang out di sebuah mal, kami singgah disatu toko batik di mall, mereka nawarin karena saya pakai batik, penjual itu tak sengaja menantangnya: sepertinya Ada penggemar batik, produksi saja dan jual di sini,” kata Agus menirukan tantangan penjual itu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (4/5/21).
Singkatnya, bak gayung bersambut. Tantangan diterima. Agus memproduksi 10 potongpada 2011 itu ternyata habis terjual dalam waktu singkat. Agus dan Elva pun memutuskan serius mendirikan Apikmen, yang dalam bahasa Indonesia berarti bagus sekali berbasis di Puri Beta, Ciledug, Jakarta Selatan,
Agus menggandeng lebih dari 15 perajin dari berbagai kota. Mengusung tagline etnik, seje atau berbeda dalam bahasa Indonesia, dan gaya, Apikmen tak pernah absen dari gelaran Indonesia Fashion Week sejak 2012 sampai 2016.
Apikmen bahkan mendapatkan kesempatan ikut berbagai pameran busana etnik di luar negeri, seperti Turki, Afrika Selatan, Jepang, hingga Rusia. Sebelum berangkat pameran pihaknya melakukan riset terlebih dahulu untuk menyesuaikan produk dengan selera negara tujuan.
“Berkat riset saya bisa menyesuaikan selera warna ataupun motif yang disukai di negara tersebut. Sehingga produknya akan banyak diminati karena memadukan budaya khas Indonesia dan etnik lokal negara tujuan,” ujar Agus.
Apikmen bisa meraup omzet sampai Rp40 juta per bulan. Dalam hal pemasaran, Agus memiliki sebuah gerai di Stasiun MRT Fatmawati dan memanfaatkan media sosial @apikmenbyats serta beberapa marketplace Apikmen untuk menggaet banyak pelanggan. Kini, produknya sudah dipasarkan hampir di seluruh wilayah Indonesia ditambah negeri jiran Malaysia.
Seperti halnya sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) juga terken imbas pandemi Covid-19, Apikmen pun mengalami penurunan omzet hingga 50 persen. Lihai membaca situasi, Agus kemudian berhenti memproduksi busana dan menggantinya sesuai kebutuhan masyarakat waktu itu, yakni masker. Usahanya pun bertahan.
Saat ini Apikmen telah memiliki tiga gerai di Jakarta dan Kuala Lumpur, Malaysia, serta empat toko daring di platform pasar digital dalam negeri dan Singapura.
“Ke depan kami terus mengembangkan Apikmen, sambil memperkuat akar budaya bangsa, sekaligus memperkenalkan pada dunia dengan bangga,” ujar Agus.








