
PeluangNews, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin (12/10/2026). IHSG ditutup sesi siang anjlok 2,39% atau 145,53 poin ke level 5.948,23, jebol dari level psikologis 6.000.
Pelemahan ini membalikkan penguatan di awal sesi. IHSG dibuka menguat di level 6.109,32, naik 0,26% dari penutupan Jumat (9/10) di 6.093,76, bahkan sempat menyentuh level tertinggi harian 6.128,72 pada pukul 09.05 WIB. Namun euforia tersebut tak bertahan lama.
Memasuki pukul 09.14 WIB, tekanan jual masif mulai muncul dan menyeret indeks terus meluncur hingga menembus 6.000.
Pada penutupan sesi I, IHSG berakhir di 5.975,78 atau turun 1,94%. Volume perdagangan sesi I mencapai 39,18 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,47 triliun.
Sebanyak 537 saham tercatat turun, 159 naik, dan 95 stagnan. Indeks LQ45 juga ikut tertekan 1,62% ke 591,929.
Pemicu Global: Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS
Analis menyebut ada dua sentimen utama. Pertama, konflik di Timur Tengah yang kembali memanas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan membantu Arab Saudi menyerang kelompok Houthi di Yaman.
Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran eskalasi geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi global. Investor global pun melakukan aksi risk-off dan menarik dana dari pasar negara berkembang termasuk Indonesia.
Kedua, pelaku pasar menanti rilis data penting pekan ini, yakni data inflasi dan perdagangan China serta data inflasi Amerika Serikat yang akan menentukan arah suku bunga The Fed.
Investor Asing Jual Bersih
Tekanan diperparah aksi jual bersih investor asing. Dalam sepekan terakhir, investor asing membukukan net sell sekitar Rp2,5 triliun. Pada perdagangan hari ini, saham-saham big cap menjadi pemberat utama IHSG.
Berdasarkan data bursa, saham DSSA, BBCA, BREN, TPIA dan GOTO menjadi top laggards yang paling menekan indeks. Sementara sektor energi bergerak variatif, dengan IDX Energy menguat tipis 0,17% ke 3.164,74, namun mayoritas saham energi lainnya terkoreksi.
Proyeksi ke Depan
Meski IHSG terkoreksi tajam, fundamental ekonomi domestik masih cukup solid. Penerimaan pajak hingga September 2026 tercatat melonjak 24,1% dan Bank Dunia baru saja menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,2%.
Pelaku pasar disarankan tetap waspada terhadap volatilitas global dan menunggu rilis data inflasi AS pada akhir pekan untuk melihat arah kebijakan suku bunga selanjutnya. []







