BANYUASIN—-“Dulu ayah saya berusaha di hulu sebagai petani kelapa, kini saya anaknya Mustopa Patapa berjuang di hilir sebagai pengusaha olahan kelapa.”
Mustopa kini tersenyum, upaya kerasnya memberdayakan petani kelapa di daerahnya untuk naik kelas, agar jangan hanya berjualan kelapa mentah tinggal selangkah lagi untuk masuk pasar global.
UMKM Kulaku Indonesia, yang didirikannya pada 2018 merupakan produsen olahan kelapa kelapa mulai dari sabun, minak goreng, nata de Coco, batok kelapa untuk briket, VCO (virgin coconut oil) dengan total 12 varian produk dengan harga satuan produk antara Rp20.000 hingga Rp200 ribu.
Berkat kerja keras sarjana jurusan Matematika Universitas Sriwijaya, Palembang dan Magister Hubungan Internasional LSPR, Jakarta ini mampu membina 200 petani di dua desa di Banyuasin, Sumatera Selatan dan satu lagi Sumatera Utara dengan daya serap 200 ton kelapa per tahun.
Kulaku Indonesia berkantor di Kemang Manis, Kecmtan Ilir Bar. II, Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Sebelum pandemi Kulaku Indonesia mampu meraup omzet di atas Rp200 juta per tahun. Sewaktu pandmei, usahanya sempat terpukul, kemudian bangkit lagi jadi normal karena VCO menjadi laku keras, karena dipercaya meningkatkan daya tahan tubuh.
“Sebelum pandemi sebetulnya sudah dapat buyer di Malaysia dan Brazil. Namun apa daya cita-cita itu terunda, karena Malysia dilockdown dan begitu juga Brazil,” kata Mustopa keitka dihubungi Peluang, Senin (4/10/21).
UKM Kulaku sudah bermitra dengan berbagai perusahaan dan instansi seperti Bank Indonesia, Unsri dan IPB untuk pengembangan kelapa, ia sendiri bertekad menciptakan ekosistem pengolahan kelapa yang lebih komprehensif dengan melibatkan para pemangku kepentingan.
Oleh karena itu UKM-nya juga memberikan beasiswa kepada anak-anak petani kelapa di Kabupaten Banyuasin untuk menyiapkan SDM yang berkualitas dan mampu mengembangkan industri kelapa berkelanjutan di masa depan.
“Sumsel sebagai penghasil kelapa terbesar kedua di Sumatera harus mulai mendapatkan nilai tambah dari pengolahan kelapa,” katanya.
Kini lewat pameran di Dubai, laki-laki kelahiran 1990 siap masuk pasar ekspor Timur-Tengah. Produk briket (arang batok kelapa) sudah dilirik.
“Tentunya ke depan saya juga harus melakukan banyak hal, meningkatkan kualitas produk, mengurus bebragai hal sertifikasi, karena masuk pasar internasional harus punya standar,” tekad dia (Irvan).





