JAKARTA—PT Pupuk Indonesia (Persero) mempersiapkan proses distribusi pupuk subsidi berjalan lancar menjelang Lebaran. Pupuk Indonesia telah mengantisipasi kondisi lalu lintas menjelang Lebaran dengan melakukan distribusi ke daerah lebih awal.
SVP Distribusi Pupuk Indonesia Syamsu Alamsah mengatakan pihaknya mengantisipasi pendistribusian via darat dengan mengirimkan pupuk lebih awal.
“Sehingga, untuk pasokan jelang Lebaran, alhamdulillah tidak ada hambatan atau bisa dibilang aman,” ucap Syamsu, Rabu (20/4/22).
Syamsu menyampaikan, distribusi lebih awal merupakan langkah antisipasi perusahaan dalam menghadapi potensi kepadatan lalu lintas, kebijakan satu arah, hingga penerapan ganjil genap pada saat arus mudik Lebaran.
Pemerintah sendiri masih memperbolehkan distribusi pupuk menggunakan truk pada arus mudik dan arus balik Lebaran.
“Kebijakan satu arah tentu ada pengaruhnya, makanya kita gunakan juga jalur non tol. Selain itu, langkah antisipasinya ya kita mulai kirim dari sekarang,” imbuhnya.
Tak hanya jalur darat, Syamsu menambahkan, perusahaan juga memanfatkan jalur kereta api untuk distribusi pupuk, terutama sejumlah wilayah yang memiliki akses kereta api seperti di Jawa Barat.
Ia menambahkan, proses pendistribusian pupuk dengan kapal laut pun kembali normal setelah sempat terkendala akibat keterbatasan armada beberapa waktu lalu.
“Moda transportasi memang sempat terganggu yang mana kapal-kapal besar hilang, sekarang kapal-kapal besar, kapal kecil, kapal kontainer sudah ada dan semua kita pakai untuk mengirimkan pupuk dari lini satu pabrik-pabrik ke pelabuhan-pelabuhan,” kata Syamsu.
Syamsu menyebutkan, angka stok pupuk subsidi per 20 April 2022 sebanyak 805.157 ton, terdiri atas urea 355.409 ton, NPK 242.247 ton, organik 72.615 ton, SP-36 55.758 ton, ZA 79.128 ton. Ia menyampaikan, perusahaan juga telah menerapkan sistem digitalisasi yang terintegrasi, salah satunya bernama distribution planning & control system (DPCS).
Selain DPCS, Syamsu mengatakan, ada beberapa sistem digitalisasi yang diterapkan perusahaan dalam menjamin pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi, seperti Petroport yang mendigitalisasi pendistribusian via pelabuhan.
“Sistem ini memiliki fungsi pengawasan, pencatatan dan pelaporan, serta penentuan rekomendasi keputusan secara digital dan otomatis (automatic decision systems) sehingga dapat menghilangkan potensi demurrage atau denda akibat keterlambatan proses bongkar muat.





