UMKM di Indonesia ini ibarat raksasa yang masih tidur. Kalau didorong, mereka akan jadi pelaku ekspor dan memberi dampak positif yang luar biasa bagi perekonomian nasional
SALAH satu penyebab belum berkembangnya UMKM secara signifikan adalah rendahnya kucuran kredit perbankan untuk sektor UMKM. Dari Rp5.300 triliun total kredit melalui bank umum di Indonesia tahun lalu, kurang dari 20% atau sekitar Rp 1.000 triliun saja yang ditujukan bagi UMKM. “Ke depan, perlu gerakan kolektif bangsa untuk memajukan sektor UMKM,” tutur Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Indrawan, dalam acara Workshop dan Temu Bisnis Nasional UMKM II di Graha Sabha Pramana (GSP) UGM Yogyakarta, Rabu (16/10).
Kegiatan ini diselenggarakan Direktorat Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Gadjah Mada (DPKM UGM) bekerja sama Bank BRI dan BRI Microfinance itu. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak UMKM tidak mudah mengakses dana kredit perbankan. “Masih ada persoalan-persoalan administratif yang susah dijangkau UMKM,” ujar Rully.
Meski begitu, Rully menyebut komitmen bahwa pihaknya akan terus mendorong sektor UMKM agar terus tumbuh dan berkembang. “Potensi sangat besar yang dimiliki, UMKM yang tangguh dan berkelanjutan, akan menjadi kekuatan Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan ekonomi bangsa,” ucap Rully.
Kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional luar biasa. Sektor UMKM menyumbang 60,43% total PDB nasional. UMKM juga mampu menyerap total tenaga kerja sebesar 97%, dan menyediakan 99% total lapangan kerja. “UMKM di Indonesia ini ibarat raksasa yang masih tidur. Kalau didorong, mereka akan jadi pelaku ekspor dan memberi dampak positif yang luar biasa bagi perekonomian nasional,” kata Rully.
Dalam sambutannya, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Eko Putro Sandjojo, mengatakan, sektor UMKM sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan kesejahteraan. Sehingga akan mengurangi kemiskinan sekaligus ketimpangan. “Kendala pelaku UMKM tidak punya network dan minim inovasi. Maka perlu diciptakan iklim usaha dan ekosistem yang mendukung,” kata Eko.
Dalam pandangan Rektor UGM, Panut Mulyono, inovasi sangat penting agar produk UMKM dapat diterima pasar. Khususnya inovasi desain kemasan dan pemasaran. “Selain itu, UMKM juga perlu dukungan regulasi, kebijakan keuangan, pengembangan SDM dan teknologi,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan UKM DI Yogyakarta, Sri Nukiatsiwi, memaparkan upaya pembinaan koperasi dan UKM di wilayahnya agar berdaya saing dan bisa naik kelas. “Bicara pembinaan UMKM tidak bisa lepas dari koperasi. Kedua sektor tersebut tidak bisa dipisahkan,” kata Sri Nukiatsiwi.
Agar UMKM naik kelas, Sri menyebut bahwa pihaknya selalu hadir untuk memfasilitasi pelaku koperasi dan UMKM. Baik menyangkut SDM, kelembagaan, maupun pemasaran. “Kita mempunyai program dan sistem khusus pengembangan koperasi di UMKM di Yogyakarta berbasis kebutuhan pelaku usaha KUMKM,” ucap Sri.
Dijelaskan seberapa bermanfaat Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUKM yang difasilitasi Kemenkop dan UKM yang ada di Yogyakarta. “PLUT sangat berperan, terutama dalam menjawab persoalan pembiayaan, pemasaran, hingga produksi, yang dihadapi pelaku usaha. Kita sudah memiliki sistem pembinaan bagi koperasi dan UMKM agar bisa berkembang,” tutur Sri Nukiatsiwi.●(dd)








