hayed consulting
hayed consulting
octa vaganza

Akiat, Dua Kali Kampiun Dunia

SIAPA Akiat? Siapa dia lelaki asal Bandung yang nama aslinyaLei Fie Kiat? Niscaya tak banyak orang Indonesia yang tidak mengenalnya. Namun di kancah internasional layang-layang, ia bukan orang sembarangan. Khususnya dalam dunia layang-layang adu. Ia membukukan rekor langka sebagaijuara dunia dua kali dalam kejuaraan layang-layang adu yang diselenggarakan di Kota Dieppe, Prancis, tahun 1998 dan 2004.

Akiat lahir tahun 1965. Hanya lulusan SD. Ia tumbuh di tengah masyarakat yang menggilai permaian tradisional itu. “Dari kecil saya udah suka. Sekalian buat jajan. Saya gak punya uang jajan (dari orangtua), jadi buat layangan. Dari dulu jualan dan memang hobi main layangan. Sambil sekolah sambil bikin layangan,” tutur lelaki yang mukim di Jalan Pagarsih No.187, Kelurahan Jamika, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung.

Hobi ini membawa Akiat ikut kejuaraan tingkat daerah hingga nasional. “Saya jadi juara nasional di Jakarta tahun 90-an, sehingga diundang untuk mengikuti kejuaraan dunia untuk layang-layang adu di Prancis, tahun 1998,” ujarnya. Keikutsertaannya dalam lomba dua tahunan dengan peserta puluhan negara itu berbuah manis. Untuk pertama kalinya Indonesia tampil sebagai juara. “Selalu terharu dan merinding saat naik ke podium kehormatan. Saya sangat bangga sekali,” tutur Akiat.

Dengan prestasi itu, ia pun jadi langganan peserta kejuaraan layangan adu internasional. Sejumlah prestasi ditorehkannya. Termasuk meraih gelar juara dunianya yang kedua, pada tahun 2004. Rekor Akiat lainnya: Juara I Kejuaraan Layang-layang Internasional di Kota Saclay, Prancis (1998), Juara I Kejuaraan Layang-layang Eropa (sebagai peserta kehormatan) di Kota Pyneneens, Prancis (2000), Juara III Kejuaraan Layang-layang Dunia di Kota Dieppe, Prancis (2002).

Kini Akiat telah pensiun memainkan permainan udara kesukaannya. Dua gelar Juara Dunia itu jelas merupakan hal terpenting dan terindah dalam sejarah hidupnya. Sekaligus, itu pulalah persembahannya yang monumental untuk bangsa—meski hampir tak terpublikasi, apalagi memperoleh apresiasi dengan layak. Selain kondisi fisik yang menurun, Akiat menderita mata kering yang membuat dirinya kesulitan untuk bermain layang-layang yang dicintainya semenjak berusia dini.Yang agaknya luput dari pikiran Lei Fie Kiat adalah soal regenerasi. Ia tak sempat ‘menyiapkan’ generasi penerus yang hebat.●

pasang iklan di sini