hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

Pemerintah Siapkan Jawaban Investigasi AS soal Barang Ekspor

Airlangga Hartarto
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto/Dok. Peluang News-Hawa

PeluangNews, Jakarta – Kerja sama perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) tidak berjalan mulus.

Negeri Paman Sam tengah menyelidiki terhadap sejumlah komoditas ekspor nasional. Atas situasi ini, menurut Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pemerintah tengah menyiapkan respons atas investigasi perdagangan AS melalui skema Section 301.

Investigasi Section 301 adalah proses penyelidikan yang dilakukan oleh United States Trade Representative (USTR) sebagai bagian dari proses peninjauan terhadap kebijakan dan praktik perdagangan negara mitra, termasuk Indonesia.

Penyelidikan mencakup dua isu utama, yakni dugaan praktik yang menciptakan atau mempertahankan kapasitas berlebih di sektor manufaktur (structural excess capacity).

Kedua, efektivitas penerapan larangan impor barang yang diproduksi dengan tenaga kerja paksa (forced labor).

“Ya, pertama kan US menerapkan 301 dalam perdagangan, yaitu melakukan penyelidikan terhadap ekspor Indonesia dalam dua hal, yaitu excess kapasitas, jadi produksi yang berlebih, dan yang kedua terkait dengan impor bahan baku terkait dengan forced labor,” kata Airlangga di kantor kementeriannya, Senin (13/4/2026).

Dia mengungkapkan pemerintah telah menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah kementerian terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Perindustrian, dan Kementerian Keuangan untuk menyiapkan tanggapan resmi.

“Dan tentunya ini kita diminta untuk merespons karena sesudah kita merespons nanti kita men-submit dalam rapat, kemudian juga ada investigasi lanjutan. Yang penting kita merespons saja,” ujar dia.

Respons tersebut, lanjutnya, akan menjadi dasar bagi tahapan berikutnya dalam proses investigasi yang dilakukan oleh otoritas AS. Penyelidikan dilakukan berbasis komoditas, bukan pada aspek regulasi secara umum.

Menko Airlangga mengemukakan, pendekatan yang digunakan pihak AS memang bersifat spesifik per komoditas.

“Enggak, yang dibahas kan excess kapasitas. Sebagai contoh satu, excess semen misalnya. Semen kita nggak pernah ekspor ke Amerika, jadi kita tinggal jawab saja,” tutur dia, menambahkan.

Sementara itu, terkait isu potensi pembelian minyak mentah dari Rusia dan dampaknya terhadap hubungan dagang dengan AS, Airlangga juga belum memberikan penjelasan lebih lanjut.

“Nanti kita tunggu perkembangan selanjutnya,” ucap Airlangga. []

pasang iklan di sini
octa vaganza