hayed consulting
hayed consulting
lpdb koperasi

250 Ribu Tylenol Buatan Indonesia Tembus Korea Selatan, Nilainya Rp2,4 Miliar

250 Ribu Tylenol Buatan Indonesia Tembus Korea Selatan, Nilainya Rp2,4 Miliar.
250 Ribu Tylenol Buatan Indonesia Tembus Korea Selatan, Nilainya Rp2,4 Miliar.

PeluangNews, Jakarta – Pemerintah kembali melepas ekspor produk farmasi nasional ke pasar global. Kali ini, Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional melepas ekspor 250.000 unit obat pereda nyeri merek Tylenol senilai Rp2,4 miliar ke Korea Selatan.

Pelepasan ekspor digelar di fasilitas produksi PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) di Jakarta, Jumat (13/2). Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Fajarini Puntodewi hadir langsung dalam seremoni tersebut.

Puntodewi menegaskan, ekspor ini menjadi bukti nyata daya saing industri farmasi dalam negeri yang semakin kokoh di pasar internasional. Menurutnya, keberhasilan menembus pasar Korea Selatan menunjukkan kemampuan produksi Indonesia dalam rantai pasok global.

Ia mengapresiasi konsistensi PT IHI dalam mendukung kinerja ekspor nasional, khususnya sektor farmasi yang terus mencatat pertumbuhan positif.

Puntodewi juga mendorong perusahaan untuk memperkuat kapasitas produksi di dalam negeri serta memperluas transfer pengetahuan dan teknologi kepada pelaku industri domestik.

“Selain peningkatan volume produksi, penguatan transfer pengetahuan dan teknologi penting agar industri farmasi nasional semakin kompetitif,” ujarnya.

PT IHI merupakan fasilitas produksi di bawah naungan PT Johnson & Johnson yang beroperasi di Indonesia. Perusahaan tersebut merupakan bagian dari grup kesehatan konsumen global dengan induk usaha Kenvue Inc. yang berbasis di Amerika Serikat.

Menurut Puntodewi, kehadiran Kenvue di Indonesia menjadi sinyal positif atas meningkatnya kepercayaan investor global terhadap iklim usaha nasional.

“Pemerintah terus mendorong kolaborasi dengan investor dan pelaku usaha guna memperbesar peran Indonesia dalam rantai pasok global, sejalan dengan agenda hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing,” katanya.

Momentum ekspor ini juga dinilai strategis bagi PT IHI setelah perusahaan memperoleh fasilitas kawasan berikat dari Ditjen Bea Cukai pada 16 Desember 2025. Fasilitas tersebut memberikan kemudahan fiskal serta dukungan terhadap kelancaran produksi dan ekspor.

Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai V dari Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean A Jakarta, Derry Arifin, menyatakan bahwa fasilitas kawasan berikat merupakan bentuk dukungan konkret bagi perusahaan berorientasi ekspor.

“Melalui fasilitas ini, perusahaan berhak atas kemudahan kepabeanan dan perpajakan, termasuk restitusi pajak yang dapat dimanfaatkan kembali untuk pembelian bahan baku maupun kebutuhan operasional lain guna meningkatkan daya saing di pasar global,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur PT IHI Teerasak Luewirat menilai sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha swasta menjadi kunci penguatan industri manufaktur dan ekspor nasional.

Kolaborasi tersebut dinilai tidak hanya memastikan operasional perusahaan berjalan optimal, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem perdagangan global.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kinerja ekspor farmasi Indonesia sepanjang 2021–2025 tumbuh 7,63 persen. Pada 2025, Korea Selatan tercatat sebagai tujuan ekspor farmasi terbesar ketiga dengan nilai USD 75,46 juta atau berkontribusi 10,24 persen terhadap total ekspor farmasi Indonesia.

Di tingkat global, permintaan produk farmasi periode 2020–2024 tumbuh 11,02 persen. Pendapatan industri farmasi dunia mencapai USD 1,16 triliun pada 2024 dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 1,53 triliun pada 2030 dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk 4,74 persen.

Dengan tren positif tersebut, ekspor 250.000 unit Tylenol ke Korea Selatan bukan sekadar transaksi dagang, tetapi penegasan bahwa industri farmasi Indonesia semakin diperhitungkan di panggung dunia.

pasang iklan di sini
octa vaganza
Translate