JAKARTA—Bank Indonesia (BI) yakin bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan berkisar antara 5,1 hingga 5,5 persen. Begitu juga pertumbuhan kredit berada antara 10 hingga 12 persen.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan adanya
sejumlah stimulus yang didorong sejumlah kebijakan pada 2019, yaitu kelonggaran
likuiditas karena penurunan suku bunga sebesar total 100 basis poin pada 2019,
Giro Wajib Minimum (GWM), serta Rasio Indermediasi Makroprudensial (RIM).
“Untuk pendorong pertumbuhan kredit, di antaranya kondisi global yang membaik,
perbaikan ekspor, perbaikan investasi, dan kebijakan BI yang akomodatif,” ujar
Perry dalam jumpa media Rapat Dewan Gubernur, Kamis (19/12/19).
Perkiraan kondisi global yang berdasarkan kesepakatan dagang China dan Amerika
Serikat. Ini pada akhirnya bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia,
khususnya sisi ekspor.
Begitu juga dengan perbaikan ekspor terlihat dari sektor pulp and paper, juga
kendaraan ke wilayah Timur Tengah.
“Stimulus fiskal akan membantu juga karena ada peningkatan
bantuan sosial yang lebih tinggi dari tahun ini yang akan menguatkan konsumsi
rumah tangga,” ucap dia.
Lanjut dia perbaikan investasi khususnya non bangunan sejalan dengan kebijakan
reformasi dan transformasi ekonomi pemerintah. Presiden sendiri mendorong
investasi swasta termasuk pembangunan klaster ekonomi seperti yang berbasis
pariwisata, industri, hilirisasi, pertanian dan perikanan.
Kebijakan BI yang akomodatif akan terus dilanjutkan untuk mendorong ekonomi. Pertumbuhan
kredit delapan persen pada tahun ini menunjukkan siklus keuangan masih di bawah
optimal. Transmisi bauran kebijakan BI akan mulai terasa pada tahun depan.
“Transmisi penurunan suku bunga ke kredit modal kerja baru 32 basis poin sejak Januari 2019. Kedepan, permintaan kredit akan meningkat seiring dengan kesiapan bank sehingga bisa meningkatkan pertumbuhan kredit tahun depan,” pungkas dia.








