Adalah Jarry Albert Sumendap, putra Manado yang gigih, pendiri maskapai ini. Tanggal 1 April 1970 merupakan tonggak paling bersejarah bagi Bouraq, berkat keberhasilan mendaratkan armada mereka di sebuah lapangan rumput di Balikpapan, Kalimantan Timur.
Perusahaan kayu seperti yang dimiliknya memang memiliki kebutuhan untuk mengangkut pekerja ke kawasan pedalaman Kalimantan.
Berselang dua tahun, Bouraq mendirikan anak perusahaan Bali Air, yang beroperasi untuk melayani rute perintis di daerah IBT. Maskapai ini menorehkan catatan menarik sebagai perintis penggunaan pilot wanita di industri dirgantara.
Di masa itu, hampir setengah abad silam, Bouraq telah mempekerjakan tiga penerbang perempuan. Yaitu Meriam Zanaria, Lokawati Nakagawa dan Cipluk.
Sekitar satu dekade eksis di bisnis penerbangan, Bouraq jadi salah satu ikon dirgantara nasional. Pada 1990-an, Bouraq menyabet predikat sebagai perusahaan penerbangan swasta dengan on-time performance terbaik untuk penerbangan domestik. Maskapai dengan warna khas hijau toska ini sangat populer di wilayah IBT.
Kondisi keuangan perusahaan pascakrisis 1998 menekuk kinerja perusahaan ke titik kritis. Dimulai dari meninggalnya Jerry Sumendap, pertengahan 1995.
Daya juang generasi kedua Jerry ternyata kalah tangguh. Tatkala perekonomian Indonesia diterjang krisis moneter 1998, Bouraq coba bertahan dengan berbagai strategi. Sempat agak bernapas. Namun, dengan beban finansial yang makin berat, maskapai ini menyerah pada 25 Juli 2005. Bouraq dinyatakan pailit.
Berbagai upaya pembenahan organisasi tak cukup untuk menyelamatkan Bouraq. Kehadiran pendatang baru menambah ketat persaingan di bisnis ini. Malang tak terelakkan, Bouraq harus berhadapanan dengan persoalan yang jauh lebih besar, krisis moneter 1998. Setelah 35 tahun, di akhir hayatnya Bouraq hanya menyisakan sebuah pesawat Boeing B737-200.●








